JAKARTA - Industri Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) nasional terus menunjukkan geliat positif seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap produk air minum yang aman dan berkualitas.
Di tengah dinamika tersebut, penguatan organisasi dan kolaborasi lintas pemangku kepentingan menjadi kunci agar industri ini mampu tumbuh sehat, berkelanjutan, dan memiliki daya saing tinggi.
Semangat inilah yang mengemuka dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) perdana Perkumpulan Usaha Air Minum Dalam Kemasan Nusantara (Amdatara).
Rakernas pertama Amdatara yang digelar di Jakarta beberapa waktu lalu menjadi momentum penting bagi organisasi yang baru berdiri tersebut untuk merumuskan arah kebijakan sekaligus mempertegas komitmennya dalam membangun industri AMDK yang profesional dan berkontribusi nyata bagi perekonomian Indonesia.
Forum ini juga menjadi ruang konsolidasi nasional untuk memperkuat kolaborasi antaranggota dan pemangku kepentingan strategis.
Ketua Umum Amdatara, Karyanto Wibowo, menyampaikan bahwa dalam waktu satu setengah bulan sejak berdiri, Amdatara telah aktif menjalin dialog dengan berbagai kementerian dan lembaga terkait. Upaya ini dilakukan sebagai langkah awal membangun sinergi yang konstruktif antara pelaku industri dan pemerintah.
“Alhamdulillah kita mendapat dukungan dari Pemerintah selaku mitra strategis kami,” ujar Karyanto.
Konsolidasi Organisasi dan Dukungan Pemerintah
Karyanto menjelaskan bahwa Amdatara telah melakukan komunikasi intensif dengan sejumlah pemangku kepentingan strategis, antara lain Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Kementerian Perhubungan (Kemenhub), serta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Dialog ini menjadi fondasi penting dalam merumuskan kebijakan organisasi yang selaras dengan regulasi dan kebutuhan industri.
Selain membangun hubungan di tingkat pusat, Amdatara juga fokus memperkuat jaringan organisasi di daerah. Penguatan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) sebagai bagian dari struktur Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) dinilai krusial mengingat sebagian besar perusahaan AMDK beroperasi di daerah.
“Karena sebagian besar perusahaan AMDK berada di daerah sehingga memang sangat penting bagi kita untuk memperkuat jaringan kita di daerah,” ucap Karyanto.
Sebagai organisasi baru, Amdatara menargetkan dua penguatan utama. Pertama, strategi komunikasi melalui media sosial serta kolaborasi kegiatan offline untuk meningkatkan visibilitas dan pemahaman publik. Kedua, penguatan sekretariat sebagai pusat koordinasi dan layanan bagi anggota.
Rakernas sebagai Arah Strategis Industri AMDK
Rakernas perdana Amdatara mengusung tema “Rapatkan Barisan, Perkuat Kolaborasi, Tingkatkan Daya Saing”. Tema ini mencerminkan semangat organisasi dalam menyatukan visi dan langkah seluruh anggota untuk mendorong pertumbuhan industri AMDK yang sehat dan berkelanjutan.
Dalam forum tersebut, Amdatara membahas dan menetapkan kebijakan strategis organisasi, termasuk merumuskan solusi atas berbagai isu industri. Isu-isu yang menjadi perhatian meliputi regulasi, standar mutu, keamanan pangan, serta aspek keberlanjutan agar industri AMDK terus memberikan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
Rakernas ini juga menegaskan visi Amdatara sebagai asosiasi yang inklusif, kolaboratif, dan berintegritas. Organisasi ini berkomitmen mendorong keunggulan industri AMDK Indonesia melalui peningkatan kualitas, inovasi, kepatuhan regulasi, serta praktik ramah lingkungan.
Langkah strategis yang dibahas mencakup penguatan organisasi internal, advokasi kebijakan yang mendukung keberlanjutan—termasuk harmonisasi regulasi, SNI, perizinan air, sertifikasi halal, serta Extended Producer Responsibility (EPR)—hingga peningkatan kompetensi dan sinergi antaranggota.
Kontribusi Industri AMDK bagi Perekonomian
Industri AMDK merupakan salah satu sektor paling dinamis dalam industri makanan dan minuman nasional. Pertumbuhan sektor ini tercatat konsisten di kisaran 5–8 persen per tahun, menunjukkan permintaan pasar yang terus meningkat.
Kontribusinya terhadap perekonomian nasional juga sangat signifikan. Dengan kapasitas produksi mencapai sekitar 47 miliar liter per tahun, industri AMDK melibatkan lebih dari 700 perusahaan dan menyerap sekitar 46.000 tenaga kerja langsung. Dampak ekonomi ini tidak hanya dirasakan oleh pelaku industri utama, tetapi juga menguatkan rantai pasok dan mendorong pertumbuhan UMKM di berbagai daerah.
Keberadaan industri AMDK telah menciptakan efek berganda bagi sektor-sektor ekonomi lainnya, mulai dari distribusi, logistik, hingga kemasan. Hal ini menjadikan industri AMDK sebagai salah satu pilar penting dalam struktur ekonomi nasional.
Sebagai organisasi yang berdiri sejak 2025 dan kini menaungi lebih dari 80 perusahaan dengan lebih dari 150 merek AMDK di Indonesia, Amdatara menegaskan posisinya sebagai rumah bersama bagi pelaku industri. Organisasi ini berupaya membangun ekosistem usaha yang profesional, inklusif, dan bertanggung jawab.
Kolaborasi Lintas Sektor dan Komitmen Keberlanjutan
Amdatara meyakini bahwa industri AMDK yang kuat, aman, dan berkelanjutan akan menjadi fondasi penting dalam mendukung kualitas hidup masyarakat.
Oleh karena itu, organisasi ini berkomitmen mendorong kolaborasi, inovasi, serta tata kelola yang baik sebagai kunci kemajuan industri AMDK Indonesia.
Rakernas perdana Amdatara di Hotel Novotel Jakarta Pulomas turut dihadiri berbagai pemangku kepentingan lintas sektor. Hadir antara lain Direktur Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Wilayah Pesisir dan Laut Kementerian Lingkungan Hidup Sayid Muhadhar, serta Kasubdit Operasi dan Pemeliharaan Air Tanah, Air Baku, Irigasi dan Rawa Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Bhakti.
Turut hadir pula Dewan Pengawas Amdatara, Pakar Hidrogeologi Profesor Heru Hendrayana, Pakar Hidrasi Sehat Fakultas Kedokteran UI Diana Sunardi, Guru Besar Gizi Masyarakat IPB Ahmad Sulaeman, serta Pakar Teknologi Pangan dan Kemasan IPB Nugraha Edi Suyatma.
Kehadiran pengurus pusat dan daerah dari delapan wilayah, anggota kehormatan, mitra strategis, serta pemasok industri AMDK semakin menegaskan kuatnya komitmen bersama.
“Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut mencerminkan komitmen bersama untuk membangun sinergi lintas sektor demi penguatan industri nasional,” ucap Karyanto.