JAKARTA - Dalam setahun terakhir, Indonesia telah menyaksikan penutupan ribuan unit mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM).
Menurut data yang dirilis oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), penurunan ini tidak hanya mencerminkan tren yang terus berlanjut, tetapi juga sebuah perubahan besar dalam cara masyarakat mengakses layanan perbankan.
Mengapa mesin ATM semakin sedikit dan apa dampaknya bagi masyarakat serta sektor perbankan? Berikut adalah penjelasan lebih lanjut mengenai fenomena ini.
Penurunan Jumlah ATM: Fakta dan Data Terkini
Berdasarkan data dari Surveillance Perbankan Indonesia yang dirilis oleh OJK, jumlah mesin ATM, CDM (Cash Deposit Machine), dan CRM (Cash Recycle Machine) di Indonesia pada kuartal III-2025 tercatat sebanyak 89.774 unit, menurun dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2024 yang mencapai 91.173 unit.
Ini berarti, dalam satu tahun terakhir, ada sekitar 1.399 unit ATM yang tutup.
Dian Ediana Rae, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, menjelaskan bahwa penurunan jumlah mesin ATM ini terjadi seiring dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi di sektor keuangan. Menurutnya, keputusan untuk menutup ATM merupakan bagian dari langkah efisiensi yang diambil oleh masing-masing bank.
"Jumlah ATM yang secara tren mengalami penurunan pada dasarnya merupakan langkah yang dilakukan berdasarkan keputusan bisnis masing-masing bank," ujarnya.
Meningkatnya Penggunaan Teknologi Keuangan
Penurunan jumlah ATM ini tidak terlepas dari perubahan yang terjadi di masyarakat terkait dengan adopsi teknologi informasi yang semakin masif.
Dian mengungkapkan bahwa dengan semakin banyaknya masyarakat yang menggunakan aplikasi mobile banking, layanan perbankan digital, dan platform daring lainnya, kebutuhan akan mesin ATM pun semakin berkurang.
Masyarakat kini lebih cenderung mengakses layanan keuangan secara digital, baik untuk cek saldo, transfer uang, maupun melakukan pembayaran non tunai.
Teknologi telah membuat segalanya menjadi lebih praktis. Aplikasi perbankan memungkinkan nasabah untuk mengakses layanan kapan saja dan di mana saja tanpa perlu pergi ke mesin ATM.
Sebagai contoh, dengan adanya payment gateway dan sistem pembayaran digital seperti QR code, masyarakat bisa melakukan transaksi hanya dengan ponsel mereka tanpa harus menarik uang tunai di ATM. Tren ini semakin mengarah pada pengurangan ketergantungan terhadap infrastruktur fisik ATM.
Efisiensi Operasional Bank Sebagai Faktor Kunci
Tren penutupan mesin ATM juga berhubungan dengan fokus perbankan pada efisiensi operasional. Dengan beralih ke layanan digital yang lebih hemat biaya, bank dapat mengurangi pengeluaran untuk pemeliharaan mesin ATM serta biaya operasional lainnya yang terkait dengan infrastruktur fisik.
Dian menambahkan bahwa peningkatan akses ke layanan digital dapat mendukung efisiensi operasional ini, yang pada akhirnya memperkuat kinerja keuangan bank.
Bahkan, dalam beberapa kasus, penutupan ATM justru dianggap sebagai strategi untuk meningkatkan profitabilitas perbankan.
Dengan mengurangi pengeluaran untuk infrastruktur fisik dan beralih ke layanan digital, bank dapat mengoptimalkan sumber daya yang ada. Hal ini juga berdampak pada transaksi non tunai (cashless) yang semakin populer di masyarakat.
Dengan meningkatnya transaksi menggunakan kartu debit, kartu kredit, dan dompet digital, kebutuhan akan mesin ATM pun semakin berkurang.
Dampak Tren Penurunan ATM Terhadap Ekonomi dan Masyarakat
Walaupun penurunan jumlah ATM terlihat sebagai langkah efisiensi bagi bank, dampaknya terhadap masyarakat cukup signifikan, terutama bagi mereka yang terbiasa mengakses uang tunai melalui ATM.
Masyarakat di daerah yang lebih terpencil mungkin masih mengandalkan ATM sebagai satu-satunya cara untuk menarik uang tunai. Dengan penutupan ribuan mesin ATM, kebutuhan masyarakat akan tempat untuk mengakses uang tunai menjadi semakin terbatas.
Namun, dampak ini diimbangi dengan transisi ke sistem cashless yang semakin berkembang pesat. Dengan meningkatnya penggunaan dompet digital dan platform pembayaran elektronik lainnya, masyarakat kini bisa melakukan berbagai transaksi tanpa harus menggunakan uang tunai.
Hal ini membuka peluang bagi perekonomian digital yang lebih efisien dan lebih mudah diakses, terutama bagi mereka yang tinggal di kawasan urban atau perkotaan yang sudah terbiasa dengan teknologi.
Dalam jangka panjang, tren ini diperkirakan akan terus berlanjut. Perbankan dan lembaga keuangan akan semakin fokus pada peningkatan kualitas layanan digital, sementara penggunaan uang tunai dan ATM akan semakin terkikis oleh kemajuan teknologi.
Pemerintah juga mendukung hal ini melalui kebijakan untuk mempercepat digitalisasi sistem keuangan, baik untuk transaksi domestik maupun untuk transaksi lintas negara.
Penyebab Utama Penutupan ATM: Teknologi dan Efisiensi
Kesimpulannya, penutupan ribuan mesin ATM di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari adopsi teknologi yang semakin meluas di sektor perbankan.
Kebutuhan akan mesin ATM yang dulunya sangat penting kini semakin berkurang seiring dengan tren pembayaran digital dan mobile banking yang semakin digemari.
Selain itu, efisiensi operasional yang lebih tinggi menjadi alasan utama bagi perbankan untuk mengurangi jumlah ATM yang mereka operasikan.
Meskipun demikian, penting untuk mencatat bahwa perubahan ini membawa dampak positif dalam hal efisiensi dan kemudahan transaksi, namun juga menuntut masyarakat untuk semakin adaptif terhadap teknologi digital dalam hal pengelolaan keuangan mereka.
Dengan kata lain, meskipun ATM semakin berkurang, teknologi digital dan sistem pembayaran non tunai akan semakin menjadi pilihan utama di masa depan.