Benarkah GERD Bisa Picu Risiko Kematian Pasien? Ini Penjelasannya

Selasa, 27 Januari 2026 | 10:35:07 WIB
Benarkah GERD Bisa Picu Risiko Kematian Pasien? Ini Penjelasannya

JAKARTA - Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) sering dianggap sebagai masalah lambung biasa, namun banyak orang bertanya-tanya apakah kondisi ini bisa berujung pada kematian.

 GERD terjadi ketika asam lambung diproduksi berlebihan hingga naik ke kerongkongan atau dikenal sebagai reflux. 

Meskipun jarang mematikan secara langsung, ada faktor lain yang perlu diperhatikan, terutama penyakit penyerta atau komorbid yang dapat memperburuk kondisi pasien.

Faktor Penyakit Penyerta yang Perlu Diwaspadai

Dokter spesialis penyakit dalam sekaligus konsultan endokrin, metabolik, dan diabetes dari RS EMC Sentul, dr. Roi P. Sibarani, Sp.PD, KEMD, FES, menekankan bahwa kematian akibat GERD hampir selalu terkait dengan adanya penyakit penyerta.

“Beberapa kasus kan memperlihatkan seperti itu (GERD berujung kematian), tapi menurut saya pasti ada faktor yang lain, komorbid yang lain, misalnya aritmia jantung,” kata Roi.

Ia menambahkan, bagi sebagian orang yang sangat sensitif terhadap muntah parah, refluks lambung bisa memberi efek pada kardiovaskular. 

“Kalau cuman asam lambungnya penuh ya saya kira yang dirasakan cuma nyeri, muntah, bagi orang yang terlalu sensitif dengan muntah (muntah parah) bisa berefek ke kardiovaskular juga,” jelas Roi.

Stres Sebagai Pemicu Utama GERD

Selain faktor komorbid, tingkat stres juga memengaruhi munculnya GERD. Menurut Roi, kasus GERD di kalangan usia produktif masih tinggi, terutama karena tekanan pekerjaan.

“Banyak (kasusnya) karena kan faktor stres, kalau saya memeriksa sih pasien-pasien di usia produktif hampir 90 persen stres, dari kerjaan, bukan keluarga,” ungkapnya.

Dengan begitu, pola hidup modern yang sarat tekanan kerja ternyata turut berperan dalam meningkatnya kasus GERD. Faktor psikoneural dan psikososial pasien juga dapat memperparah kondisi ini, karena tubuh menjadi lebih sensitif terhadap produksi asam lambung.

Mengenal GERD dan Cara Mengelolanya

GERD sendiri merupakan kondisi di mana asam lambung diproduksi berlebihan dan naik ke kerongkongan. Roi menjelaskan bahwa tubuh memproduksi asam lambung lebih dari yang dibutuhkan, terutama pada orang dengan kondisi psikoneural tertentu.

“Jadi, tubuh kita, lambung kita, memproduksi asam berlebihan, terlalu sensitif sehingga pada keadaan yang sebetulnya kita tidak memerlukan asam lambung yang banyak dia keluar asam lambung dan ini kan berkaitan dengan kondisi psikoneural atau psikososial orang tersebut (pasien),” jelas Roi.

Untuk mencegah refluks semakin parah, Roi menyarankan pasien menerapkan pola makan sehat dan teratur. Makan secara rutin membantu asam lambung memiliki ‘pekerjaan’ sehingga tidak menumpuk dan memicu reflux. 

“Untuk GERD ya ada baiknya kita tetap makan karena kalau kita makan kan si asam lambungnya jadi ada kerjaan. Kalau kita enggak makan kan asam lambungnya terus naik, enggak ada yang dia olah jadi reflux,” tambahnya.

Makanan yang Tepat untuk Pasien GERD

Pemilihan makanan juga menjadi strategi penting dalam mengelola GERD. Roi menekankan agar pasien mengonsumsi makanan yang sederhana dan tidak iritatif, terutama saat lapar di malam hari.

“Jadi supaya ada kerjaan (asam lambungnya) ya kita kasih makanan yang gampang dicerna dan tidak iritatif, tidak menambah asam lambung yang banyak misalnya karena bumbunya terlalu banyak. Jadi makan yang sederhana dengan tujuan asam lambungnya itu tidak muncrat,” saran Roi.

Selain itu, asam lambung yang berlebihan bisa memperburuk kondisi penyakit lain. Contohnya, bagi pasien dengan aritmia atau gangguan irama jantung, refluks lambung yang parah dapat memperburuk kondisi jantung yang sebelumnya tidak terdiagnosis.

 “Ada jeleknya lagi kalau pasien punya aritmia, misalnya punya gangguan jantung yang dia tidak ketahui sebelumnya nah kemudian bisa menimbulkan irama jantungnya tambah tidak bagus. Ini berkaitan juga dengan penyakit-penyakit yang lain,” jelas Roi.

Sebagai alternatif makanan sehat, Roi merekomendasikan konsumsi buah atau sayuran sederhana. Ia menyebut timun sebagai salah satu pilihan karena teksturnya renyah dan bisa menggantikan makanan tinggi lemak atau gorengan. 

“Jadi caranya kita kenali diri kita, kalau kita memang sensitif ya boleh kita makan tuh dengan makanan yang tidak terlalu banyak kalorinya, bisa buah, saya suka timun karena krispi bisa gantiin gorengan-gorengan,” pungkasnya.

Dengan demikian, meski GERD jarang berakibat fatal secara langsung, pengelolaan yang tepat melalui pola makan, pengendalian stres, dan perhatian terhadap penyakit penyerta menjadi langkah penting. 

Pahami tubuh Anda, kenali gejala GERD, dan konsultasikan dengan tenaga medis jika ada keluhan berlebihan agar kondisi tetap terkendali dan risiko komplikasi bisa diminimalkan.

Terkini

Komdigi Siapkan Internet Murah Untuk Jutaan Rumah Tangga

Selasa, 27 Januari 2026 | 14:43:12 WIB

KLH Siap Bangun Proyek PSEL Empat Aglomerasi Nasional

Selasa, 27 Januari 2026 | 14:43:10 WIB

Masa Depan Dana Haji: Investasi Emas Butuh Regulasi Cepat

Selasa, 27 Januari 2026 | 14:43:09 WIB

Panduan Lengkap Daftar Antrean Pangan Bersubsidi KJP 2026

Selasa, 27 Januari 2026 | 14:43:08 WIB

Bulog Serap Gabah Petani Lokal, Jaga Harga Tetap Stabil

Selasa, 27 Januari 2026 | 14:43:06 WIB