Simpanan Jumbo Meningkat, Bank Perlu Beradaptasi dengan Tren Baru

Rabu, 28 Januari 2026 | 15:52:38 WIB
Simpanan Jumbo Meningkat, Bank Perlu Beradaptasi dengan Tren Baru

JAKARTA - Bank-bank Indonesia menghadapi lonjakan signifikan dalam simpanan nasabah kaya. 

Sejumlah besar dana yang tersimpan di bank bukan hanya menggambarkan kekayaan kelompok atas, tetapi juga mencerminkan kecenderungan para pemilik dana besar untuk lebih berhati-hati dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global dan gejolak geopolitik. 

Trennya, nasabah dengan saldo simpanan besar memilih untuk "menunggu dan melihat" sementara situasi pasar dan ekonomi bergejolak. 

Ini memberi dampak signifikan pada industri perbankan, yang kini harus mengelola porsi besar dana yang terparkir dalam bentuk simpanan jumbo.

Lonjakan Simpanan Nasabah Kaya

Menurut data dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), simpanan nasabah dengan saldo lebih dari Rp 5 miliar menunjukkan lonjakan tahunan yang cukup signifikan, yakni mencapai 22,76%. 

Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan simpanan nasabah kelas menengah dan bawah yang mengalami stagnasi atau bahkan penurunan. Kenaikan yang tajam ini menggambarkan ketidakseimbangan yang semakin besar dalam distribusi kekayaan di sektor perbankan.

Farid Azhar Nasution, Wakil Ketua Dewan Komisioner LPS, mengungkapkan bahwa lonjakan simpanan jumbo ini tidak sepenuhnya bersifat organik. 

Salah satu faktor yang turut mendorongnya adalah kebijakan pemerintah, khususnya Kementerian Keuangan yang menempatkan Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah di bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). 

Kebijakan ini memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan jumlah simpanan besar di perbankan.

Ketimpangan Ekonomi yang Meningkat

Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), menilai bahwa tren ini semakin memperlihatkan ketimpangan ekonomi yang nyata. 

Pertumbuhan simpanan kini terfokus pada kelompok kaya, sementara simpanan kelompok menengah dan bawah justru tertekan. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan yang semakin lebar dalam akses terhadap layanan perbankan. 

Meskipun demikian, meskipun ada lonjakan besar pada simpanan kaya, hal ini juga mencerminkan kebijakan perbankan yang lebih agresif dalam menarik dana dari nasabah berpotensi besar.

Kondisi ini memberi tekanan pada sektor perbankan yang kini berlomba untuk mendapatkan dana besar dengan menawarkan bunga tinggi atau special rate. 

Tentunya, strategi ini berdampak pada meningkatnya biaya dana (cost of fund) bagi perbankan. Bank-bank kini harus berjuang keras untuk mempertahankan margin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM) yang optimal, yang semakin sulit dicapai seiring meningkatnya biaya dana.

Menandai Berakhirnya Era Dana Murah

Berdasarkan tren yang ada, sektor perbankan sepertinya harus siap menghadapi berakhirnya era dana murah. Sebelumnya, bank-bank Indonesia banyak bergantung pada dana murah, terutama simpanan tabungan dan giro yang memberikan bunga rendah. 

Namun, dengan tingginya minat nasabah kaya untuk menempatkan dananya, bank harus lebih selektif dan agresif dalam menarik dana.

Dalam hal ini, pihak perbankan harus memperluas basis simpanan mereka, tidak hanya mengandalkan simpanan dari nasabah kaya, tetapi juga mendorong segmen usaha kecil dan menengah (UMKM) serta pelaku usaha baru untuk membuka rekening tabungan. Langkah ini dianggap krusial untuk menjaga kestabilan likuiditas tanpa membebani margin keuntungan perbankan.

Sektor Private Banking dan Tumbuhnya Permintaan

Salah satu bank yang mencatatkan pertumbuhan signifikan di segmen nasabah kaya adalah PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI). 

Sepanjang tahun 2025, BNI mencatatkan kenaikan dana pihak ketiga (DPK) dari nasabah dengan aset lebih dari Rp 5 miliar yang tumbuh lebih dari 20% secara tahunan. Peningkatan ini didorong oleh kolaborasi erat antara divisi consumer banking dan business banking.

Henny Eugenia, General Manager Divisi Wealth Management BNI, menjelaskan bahwa pertumbuhan di segmen nasabah kaya ini juga terlihat pada jumlah rekening yang meningkat lebih dari 15% secara tahunan. Selain itu, nasabah private banking dengan aset di atas Rp 15 miliar mengalami lonjakan sekitar 25%. 

Keberhasilan BNI dalam menarik dana dari kelompok kaya ini menunjukkan bahwa segmen private banking semakin berkembang pesat, meskipun lebih dari 60% dana tersebut berasal dari nasabah non-perorangan atau perusahaan.

Diversifikasi Portofolio dan Tren Tabungan

Tren serupa juga terlihat di HSBC Indonesia, di mana simpanan nasabah kaya di bank tersebut menunjukkan hasil yang solid pada akhir 2025. 

Menurut Lanny Hendra, Direktur International Wealth and Premier Banking HSBC Indonesia, simpanan nasabah kaya tetap tumbuh positif berkat kinerja produk deposito, investasi, dan bancassurance yang kuat. 

Hal ini menunjukkan bahwa nasabah kaya semakin cerdas dalam mendiversifikasi portofolio mereka, seiring dengan ketidakpastian ekonomi global yang melanda.

Hendra menambahkan bahwa kondisi ini mencerminkan strategi diversifikasi portofolio nasabah untuk memitigasi risiko yang terkait dengan ketidakpastian ekonomi.

 Para nasabah kaya tampaknya semakin berhati-hati dalam memilih instrumen investasi mereka dan lebih memilih instrumen yang lebih stabil, termasuk deposito dan produk asuransi, untuk menjaga kestabilan dan nilai aset mereka.

Dampak Positif dan Tantangan ke Depan

Kendati simpanan nasabah kaya terus mencatatkan angka yang impresif, situasi ini menghadirkan tantangan tersendiri bagi bank-bank Indonesia. 

Bank perlu menyesuaikan strategi mereka dalam menarik dana dan memperluas basis simpanan tanpa harus mengorbankan margin keuntungan. 

Selain itu, penyaluran kredit yang berimbang antara kelompok kaya dan menengah perlu dioptimalkan agar ketimpangan ekonomi tidak semakin lebar.

Dari sisi makroekonomi, fenomena ini menjadi cerminan adanya ketimpangan dalam distribusi kekayaan yang semakin nyata. Oleh karena itu, sektor perbankan harus memainkan peran penting dalam memastikan agar inklusivitas ekonomi terus dijaga, dengan memperhatikan kelompok menengah dan bawah, serta UMKM yang menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia.

Terkini