QRIS Ditargetkan Capai 150 Miliar Transaksi Per Hari pada 2030

Selasa, 24 Februari 2026 | 12:07:52 WIB
QRIS Ditargetkan Capai 150 Miliar Transaksi Per Hari pada 2030

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) memiliki target ambisius untuk sistem pembayaran digital QR Indonesia Standard (QRIS) pada tahun 2030 mendatang. 

Dalam konferensi yang diselenggarakan di Jakarta, Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan bahwa transaksi harian menggunakan QRIS diharapkan dapat mencapai 150 miliar transaksi per hari, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan transaksi yang tercatat saat ini yang berada di angka 47 miliar transaksi. 

Hal ini menandakan bahwa QRIS, sebagai salah satu sistem pembayaran digital paling berkembang di Indonesia, akan terus mengalami ekspansi yang signifikan dalam beberapa tahun ke depan.

Peningkatan Penggunaan QRIS di Indonesia

Sejak peluncurannya pada tahun 2019, QRIS telah berkembang pesat. Di awal penerapan, sistem ini menjadi titik balik penting dalam dunia pembayaran digital di Indonesia. Perry Warjiyo mengungkapkan bahwa QRIS pertama kali diperkenalkan pada 17 Agustus 2019, sebelum pandemi Covid-19 melanda. 

Pembayaran dengan QRIS menjadi sangat relevan di tengah pembatasan sosial dan meningkatnya ketergantungan terhadap teknologi dalam transaksi sehari-hari.

Kini, setelah hampir tujuh tahun berjalan, QRIS telah digunakan oleh lebih dari 60 juta orang di Indonesia. "Sekarang, berapa QRIS digunakan? 60 juta pengguna QRIS," ungkap Perry. 

Dengan begitu banyaknya pengguna, QRIS telah berhasil mengubah cara transaksi digital dilakukan, memberikan standar pembayaran yang dapat diterima secara luas oleh berbagai sektor, dari pedagang hingga konsumen.

QRIS Terhubung Secara Internasional

Tidak hanya di Indonesia, QRIS juga mulai menunjukkan pengaruhnya di pasar internasional. Bank Indonesia juga telah menjalin kerja sama pembayaran lintas batas melalui QRIS. 

Negara-negara seperti Malaysia, Thailand, Singapura, dan Jepang sudah dapat mengakses QRIS, memungkinkan transaksi lintas negara menggunakan sistem yang sama. Perry juga menambahkan bahwa QRIS dalam waktu dekat akan segera diluncurkan di China dan Korea Selatan. 

Selain itu, BI juga sedang dalam proses menyambungkan QRIS dengan sistem pembayaran di Arab Saudi dan India, memperluas cakupan dan kemampuan QRIS di kancah global.

Kerja sama internasional ini memperlihatkan bahwa QRIS tidak hanya menjadi solusi pembayaran yang efektif di Indonesia, tetapi juga berpotensi menjadi platform pembayaran lintas negara yang semakin mempermudah transaksi antar negara. 

Adanya QRIS cross border ini diharapkan dapat memfasilitasi perdagangan internasional, pariwisata, dan berbagai kegiatan ekonomi lainnya antara negara-negara yang terhubung dengan Indonesia.

Dominasi QRIS di Sektor UMKM dan DKI Jakarta

Pencapaian QRIS di Indonesia juga sangat terasa di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), yang semakin banyak memanfaatkan sistem pembayaran ini. Di Jakarta, sektor UMKM menjadi pendorong utama dalam peningkatan transaksi digital menggunakan QRIS. 

Berdasarkan data Bank Indonesia, lebih dari 36 persen volume transaksi QRIS secara nasional berasal dari DKI Jakarta, dengan mayoritas transaksi tersebut berasal dari sektor UMKM.

Iwan Setiawan, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia DKI Jakarta, menyatakan bahwa digitalisasi sistem pembayaran adalah faktor utama yang mendukung pertumbuhan ekonomi Jakarta. 

"Salah satu game changer di perekonomian kita, terutama di DKI Jakarta, adalah apabila digitalisasi ini bisa dilakukan dengan cepat," kata Iwan.

Pada tahun 2026, sudah tercatat sebanyak 6,17 juta pengguna QRIS di DKI Jakarta, yang mencakup hampir 11 persen dari total pengguna QRIS di seluruh Indonesia. Selain itu, jumlah merchant yang menggunakan QRIS di Jakarta mencapai 6,58 juta, atau sekitar 24 persen dari total merchant QRIS di Indonesia. 

Hal ini menunjukkan bahwa QRIS telah menjadi bagian penting dalam kegiatan ekonomi di Jakarta, khususnya bagi sektor UMKM yang semakin terbuka dengan sistem pembayaran digital.

Transaksi Digital di Jakarta: Sebagian Besar dari UMKM

Data dari Bank Indonesia juga mengungkapkan bahwa lebih dari sepertiga dari seluruh volume transaksi QRIS di Indonesia berasal dari DKI Jakarta. "

Untuk volume transaksi sudah mencapai hampir 6 miliar, atau porsinya sekitar 36 persen dari volume transaksi secara nasional," jelas Iwan Setiawan. Ini menunjukkan bahwa Jakarta telah menjadi pusat aktivitas transaksi QRIS di Indonesia.

Iwan menambahkan bahwa sebagian besar transaksi digital ini terjadi di sektor UMKM, yang memang menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi di Jakarta. Bahkan, beberapa usaha mikro yang sebelumnya tidak terjangkau oleh sistem pembayaran digital, kini telah mulai melakukan transaksi menggunakan QRIS. 

Hal ini menunjukkan betapa QRIS telah memudahkan pelaku UMKM untuk bertransaksi secara digital, memperluas pasar mereka, dan meningkatkan inklusi keuangan di tingkat yang lebih luas.

Terkini