Kenaikan Harga Cabai dan Daging Ayam Picu Inflasi Selama Ramadhan

Selasa, 03 Maret 2026 | 12:10:08 WIB
Kenaikan Harga Cabai dan Daging Ayam Picu Inflasi Selama Ramadhan

JAKARTA - Kenaikan harga sejumlah bahan pangan utama telah memicu lonjakan Indeks Perkembangan Harga (IPH) di berbagai wilayah Indonesia selama bulan Ramadhan 2026. 

Menurut laporan dari Badan Pusat Statistik (BPS), dua komoditas yang paling menyumbang terhadap kenaikan IPH adalah cabai rawit dan daging ayam ras. 

Amalia Adininggar Widyasanti, Kepala BPS, menjelaskan bahwa kenaikan harga ini sangat terasa di daerah-daerah yang banyak mengandalkan komoditas pangan tersebut, terutama menjelang Idul Fitri, ketika permintaan bahan pangan cenderung meningkat.

Berdasarkan data dari BPS, kenaikan harga pangan terjadi di hampir seluruh provinsi, dengan sejumlah kabupaten/kota mencatatkan perubahan IPH yang signifikan. Meski ada berbagai faktor yang mempengaruhi harga, harga cabai dan daging ayam ras menjadi penyebab utama lonjakan yang terjadi.

Kenaikan Harga Cabai Rawit dan Daging Ayam Ras

Harga cabai rawit dan daging ayam ras tercatat mengalami kenaikan yang cukup tajam di banyak wilayah. Di Pulau Sumatera, misalnya, Kabupaten Bangka mencatatkan kenaikan IPH yang paling tinggi, yang dipicu oleh tingginya harga cabai rawit, daging ayam ras, dan daging sapi. Kenaikan ini terutama disebabkan oleh permintaan yang meningkat menjelang Ramadhan.

Di Pulau Jawa, Kabupaten Trenggalek mengalami kenaikan IPH sebesar 7,5 persen, yang juga didorong oleh lonjakan harga cabai rawit dan daging ayam ras. Kenaikan harga cabai merah turut berperan dalam hal ini. 

Kenaikan yang serupa juga tercatat di Kabupaten Lombok Timur, yang mengalami lonjakan harga cabai rawit, cabai merah, dan daging sapi.

Sebagaimana diungkapkan oleh Amalia, kenaikan harga bahan pangan ini mencerminkan sifat musiman dari permintaan bahan pangan yang meningkat selama bulan suci Ramadhan. 

Di antara komoditas yang mengalami lonjakan permintaan, bahan pangan seperti cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, telur ayam, daging sapi, beras, dan bawang merah menjadi sorotan utama.

Kenaikan Harga Cabai Rawit Mencapai Harga Tertinggi

Cabai rawit menjadi salah satu komoditas yang mengalami kenaikan harga yang sangat signifikan. Pada minggu keempat Februari 2026, harga rata-rata nasional cabai rawit tercatat mencapai Rp70.000 per kilogram, yang jauh melebihi Harga Acuan Penjualan (HAP) yang seharusnya di bawah angka tersebut. 

BPS mencatatkan ada 221 kabupaten/kota yang mengalami kenaikan harga cabai rawit yang cukup signifikan, dengan beberapa daerah bahkan mencatatkan harga yang sangat tinggi.

Di daerah-daerah seperti Papua, harga cabai rawit mencapai Rp200.000 per kilogram. Ini menjadi salah satu harga tertinggi yang tercatat, dengan daerah seperti Kabupaten Nduga, Mappi, dan Intan Jaya menjadi lokasi dengan harga tertinggi tersebut.

Kenaikan IPH cabai rawit yang paling tajam terjadi di Kabupaten Situbondo, di mana harga cabai rawit tercatat sebesar Rp79.991 per kilogram, dengan lonjakan IPH mencapai 125,9 persen. Ini berarti harga cabai rawit di Situbondo telah naik sekitar 40 persen lebih tinggi dari harga acuan yang ditetapkan oleh pemerintah.

Daging Ayam Ras dan Stabilitas Pasokan Pangan

Sementara itu, daging ayam ras juga mencatatkan kenaikan harga yang cukup signifikan. Harga rata-rata daging ayam ras di Indonesia tercatat mencapai Rp41.000 per kilogram, yang turut menjadi penyebab utama kenaikan IPH di banyak kabupaten/kota. 

Kenaikan harga daging ayam ras ini berhubungan langsung dengan peningkatan permintaan untuk konsumsi selama bulan Ramadhan, di mana banyak masyarakat yang mengonsumsi ayam sebagai bagian dari menu sahur dan berbuka puasa.

Meskipun kenaikan harga ayam ras cukup tinggi, BPS juga mencatat bahwa harga beras secara nasional relatif stabil. Namun, ada 114 kabupaten/kota yang tetap mencatatkan kenaikan IPH untuk komoditas beras, meskipun tidak se signifikan kenaikan harga cabai rawit dan ayam ras.

BPS juga mencatatkan bahwa beberapa komoditas lain, seperti bawang merah dan telur ayam ras, turut berkontribusi terhadap fluktuasi harga di beberapa wilayah. Bawang merah, yang biasa digunakan dalam berbagai masakan, tercatat mengalami kenaikan harga yang cukup berarti di sejumlah daerah.

Tantangan Pengendalian Inflasi dan Kestabilan Harga Pangan

Penting bagi pemerintah dan pihak terkait untuk mengawasi harga bahan pangan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) seperti Ramadhan dan Lebaran. 

Kenaikan harga yang tidak terkendali berpotensi meningkatkan inflasi pangan yang dapat berdampak pada daya beli masyarakat, khususnya di daerah-daerah dengan kenaikan harga yang tajam.

Amalia menegaskan bahwa daerah-daerah dengan harga yang tinggi dan di atas HAP perlu mendapat perhatian lebih lanjut untuk menjaga stabilitas harga pangan. 

Oleh karena itu, perlu ada pengawasan lebih ketat terhadap distribusi dan penyaluran barang agar tidak terjadi penimbunan atau praktek harga tinggi yang merugikan konsumen.

Langkah Pengendalian Inflasi Daerah

BPS juga mengingatkan bahwa sejumlah komoditas pangan yang mengalami lonjakan harga harus menjadi perhatian lebih oleh pemerintah daerah. 

Selain itu, upaya untuk mengurangi biaya distribusi dan meningkatkan produksi dalam negeri juga perlu dilakukan agar kestabilan harga pangan dapat terjaga, terutama pada saat-saat kritis seperti bulan Ramadhan.

Dengan pengawasan yang lebih baik, pemantauan harga secara digital, dan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah, diharapkan fluktuasi harga pangan yang merugikan masyarakat dapat diminimalisir, sehingga kestabilan harga pangan dapat terjaga sepanjang tahun, khususnya menjelang Lebaran.

Terkini