JAKARTA - Survei terbaru yang dilakukan oleh CELIOS mengungkapkan bahwa salah satu kebutuhan mendesak dalam pengembangan koperasi desa adalah peningkatan kapasitas para pengelola.
Hasil survei yang mencakup berbagai daerah, mulai dari Aceh hingga Papua, menunjukkan bahwa mayoritas perangkat desa menyadari pentingnya pelatihan dan penguatan manajerial untuk memastikan koperasi desa dapat beroperasi lebih profesional dan memiliki daya saing yang tinggi di pasar.
Media Wahyudi Askar, peneliti CELIOS, menekankan bahwa pelatihan yang lebih intensif untuk pengelola koperasi dapat meningkatkan kinerja dan mengarah pada pengelolaan yang lebih efisien.
Menurutnya, koperasi yang dikelola secara profesional akan lebih mudah menghadapi tantangan dan bersaing, tidak hanya di tingkat lokal tetapi juga di tingkat yang lebih luas.
Hasil Survei: Fokus Pada Peningkatan Kapasitas Pengelola
Data yang diperoleh dari survei yang dilakukan oleh CELIOS pada 2026, bertajuk Pemetaan Solusi Efektif dalam Pengembangan Koperasi di Desa, menunjukkan bahwa sebanyak 78% responden menilai bahwa pelatihan serta peningkatan kapasitas pengelola merupakan solusi utama untuk mendorong koperasi menjadi lebih berkembang.
Peningkatan kualitas pengelola ini dianggap sebagai faktor penentu agar koperasi dapat beroperasi dengan lebih efisien, serta memberikan manfaat yang lebih nyata bagi masyarakat desa.
Lebih lanjut, survei juga mencatat bahwa 50% responden menganggap pentingnya penyuluhan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam koperasi. Kegiatan penyuluhan ini berperan penting dalam mendidik masyarakat mengenai pentingnya koperasi serta cara-cara yang dapat dilakukan untuk mendukung keberlangsungan koperasi.
Mendorong Koperasi Agar Lebih Berdaya Saing
Selain dari peningkatan kapasitas pengelola, survei juga menyoroti beberapa faktor lain yang dianggap penting untuk memperkuat posisi koperasi di desa.
46% responden mengusulkan kemudahan dalam penambahan modal untuk koperasi, yang dapat membantu mempercepat pengembangan usaha koperasi serta menambah daya saing mereka.
43% responden menilai bahwa pengembangan infrastruktur koperasi juga menjadi salah satu prioritas utama. Tanpa infrastruktur yang memadai, koperasi akan kesulitan dalam melakukan operasional yang efisien dan meningkatkan kualitas layanan kepada anggota.
Di samping itu, 39% responden menggarisbawahi perlunya penerapan teknologi informasi dalam pengelolaan koperasi. Dengan memanfaatkan teknologi, koperasi bisa memperbaiki sistem manajerial dan transaksi, meningkatkan transparansi, dan mengurangi potensi kebocoran dana. 35% responden lainnya menginginkan akses pasar yang lebih luas agar produk yang dihasilkan oleh koperasi dapat bersaing secara nasional maupun internasional.
Kolaborasi dan Pengembangan Produk Lokal
34% responden mengusulkan agar koperasi dapat mendorong pengembangan produk unggulan lokal yang dapat menarik minat konsumen. Produk-produk khas daerah yang memiliki keunikan dapat dijadikan komoditas unggulan untuk meningkatkan perekonomian desa, serta memperkenalkan potensi daerah kepada pasar yang lebih luas.
Sebanyak 32% responden juga mengusulkan adanya kolaborasi dengan pihak swasta, antardaerah, maupun BUMN untuk memperkuat ekosistem koperasi di tingkat nasional.
Dengan kolaborasi ini, koperasi dapat lebih mudah mengakses jaringan distribusi, pembiayaan, serta teknologi yang dapat membantu pengembangan usaha mereka.
Pengelolaan Profesional untuk Manfaat Ekonomi Masyarakat
Media Wahyudi Askar juga menekankan bahwa untuk memastikan koperasi desa bisa berkontribusi maksimal terhadap perekonomian lokal, koperasi harus dikelola secara profesional dan akuntabel. Menurutnya, dukungan terhadap koperasi desa pada akhirnya berasal dari kontribusi masyarakat sebagai pembayar pajak.
“Uangnya dari kantong kita. Dari pajak yang kita bayar setiap membeli sabun, makanan, dan setiap kali belanja online,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa untuk bisa memberikan manfaat ekonomi yang nyata, koperasi desa perlu memiliki pengelolaan yang transparan dan akuntabel. Dengan pengelolaan yang baik, koperasi dapat mengelola dana dengan bijaksana, mengurangi potensi penyalahgunaan, serta memastikan bahwa setiap kegiatan yang dilakukan koperasi berdampak positif bagi masyarakat di sekitar.
Selain itu, koperasi yang dikelola secara profesional dapat menarik lebih banyak anggota dan investor yang akan membantu memperbesar skala usaha koperasi. Hal ini akan menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih kuat di tingkat desa dan mendorong percepatan pembangunan daerah.