JAKARTA - PT Lippo Karawaci Tbk. (LPKR) baru-baru ini mengumumkan pencapaian yang menggembirakan di sektor properti, dengan membukukan marketing sales atau prapenjualan sebesar Rp5,32 triliun pada tahun 2025.
Sebagian besar kontribusi ini berasal dari segmen rumah tapak, yang menunjukkan adanya permintaan kuat di kedua segmen, baik rumah terjangkau maupun premium.
CEO LPKR, John Riady, mengungkapkan bahwa pencapaian ini mencapai sekitar 85% dari target tahunan yang telah ditetapkan oleh perusahaan.
Performa yang solid ini memperlihatkan bahwa LPKR berhasil menjaga momentum penjualan meski situasi pasar yang kompetitif, dengan rumah tapak menyumbang sekitar 72% dari total prapenjualan.
Hal ini mengindikasikan tingginya minat dari first-time homebuyers dan pembeli yang sudah siap untuk menghuninya (end-user), yang berfokus pada kebutuhan rumah yang lebih terjangkau dan lokasi yang strategis.
Pertumbuhan Segmen Rumah Tapak Terus Menjaga Kinerja LPKR
Dalam segmen real estate, penjualan rumah tapak menjadi salah satu pendorong utama kesuksesan LPKR. Segmen ini tidak hanya berfokus pada produk dengan harga terjangkau, namun juga memperkenalkan berbagai produk premium.
Proyek Park Serpong fase 4–6 dan Treetops Livin menjadi contoh proyek-proyek baru yang dirilis oleh perusahaan, yang berhasil menarik perhatian pasar mass-market dan menengah.
John Riady menjelaskan bahwa strategi perumahan terjangkau yang diterapkan oleh LPKR terbukti efektif, di mana penawaran segmen premium turut memperkuat posisi perusahaan di pasar.
Selain itu, kemampuan untuk melakukan serah terima tepat waktu di berbagai wilayah juga menjadi faktor kunci kesuksesan dalam pencapaian target prapenjualan yang sangat positif ini.
Pendapatan LPKR 2025 Meningkat Signifikan
Seiring dengan pencapaian prapenjualan yang mengesankan, LPKR juga mencatatkan pendapatan sebesar Rp9,03 triliun sepanjang tahun 2025, dengan EBITDA mencapai Rp1,37 triliun dan laba bersih sebesar Rp469,53 miliar.
Pendapatan dari segmen real estate naik 52% year-on-year (YoY), mencatatkan Rp7,67 triliun, yang berkontribusi pada kinerja perusahaan secara keseluruhan.
Pencapaian laba bruto yang solid ini turut didorong oleh peningkatan penjualan rumah tapak, yang mempengaruhi posisi LPKR di pasar properti.
Tidak hanya itu, perusahaan juga fokus pada efisiensi dan pengendalian biaya, yang membuatnya semakin kuat dalam menghadapi tantangan yang ada.
Selain itu, segmen gaya hidup yang meliputi mal dan hotel juga menunjukkan perkembangan positif, dengan pendapatan tercatat Rp1,37 triliun pada 2025.
Peningkatan EBITDA sebesar 16% YoY pada sektor ini menandakan adanya pemulihan operasional yang berkelanjutan, dengan optimalisasi biaya dan peningkatan sewa tenant.
Turunnya Laba Bersih LPKR: Pengaruh Pelepasan Saham SILO
Meski mengalami pencapaian yang kuat di beberapa lini bisnis, laba bersih LPKR pada 2025 tercatat turun signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Penurunan ini disebabkan oleh lonjakan laba yang tercatat pada 2024, yang merupakan hasil dari penjualan saham PT Siloam International Hospitals Tbk. (SILO).
Pada Juni 2024, LPKR melalui PT Megapratama Karya Persada menjual sekitar 1,35 miliar saham SILO, setara dengan 10,4% kepemilikan, dengan harga pengalihan Rp2.850 per saham dan transaksi senilai Rp3,85 triliun.
Transaksi ini berdampak pada perubahan pengendalian Grup terhadap SILO, yang kini hanya memiliki 47,67% saham di SILO, sehingga pengendalian atas SILO hilang dan perusahaan tidak lagi mengkonsolidasikan laporan keuangan SILO.
Dampak hilangnya pengendalian ini menyebabkan laba rugi yang tercatat pada laporan keuangan LPKR mencapai Rp21,12 triliun, yang turut memengaruhi hasil laba bersih untuk tahun 2025.
Strategi LPKR Ke Depan: Fokus pada Efisiensi dan Keberlanjutan
Melihat perkembangan tersebut, John Riady menegaskan bahwa LPKR akan terus mengoptimalkan operasional dengan fokus pada dua sektor utama, yaitu real estate dan lifestyle.
Pengelolaan keuangan yang prudent, termasuk pengendalian biaya dan upaya pengurangan utang, akan menjadi prioritas utama dalam menjaga stabilitas finansial perusahaan.
Selain itu, pencapaian prapenjualan yang solid akan menjadi dasar bagi LPKR untuk terus mengembangkan proyek-proyek baru, baik di sektor rumah tapak terjangkau maupun produk premium.
Perusahaan akan terus berinovasi dalam menghadirkan produk-produk properti yang memenuhi permintaan pasar yang dinamis, sambil memperkuat posisi dalam sektor gaya hidup dengan pengelolaan mal dan hotel yang lebih efisien.
Dalam jangka panjang, LPKR bertekad untuk tetap mengutamakan keberlanjutan dalam setiap aspek bisnisnya, baik dari segi operasional, pengelolaan sumber daya, maupun pemberdayaan masyarakat sekitar.
Melalui langkah-langkah strategis ini, perusahaan optimistis dapat memperkuat posisinya sebagai pemain utama di sektor properti dan gaya hidup Indonesia.