Penjualan Tembus Rp1 Triliun, Ifishdeco Pacu Bisnis Nikel.

Kamis, 05 Maret 2026 | 10:04:40 WIB
Penjualan Tembus Rp1 Triliun, Ifishdeco Pacu Bisnis Nikel.

JAKARTA - Di tengah dinamika industri tambang yang dipengaruhi fluktuasi harga komoditas dan perubahan regulasi, konsistensi kinerja menjadi tolok ukur utama daya tahan emiten. 

Tahun 2025 menjadi periode penting bagi PT Ifishdeco Tbk (IFSH) yang berhasil menjaga momentum pertumbuhan di sektor nikel dan pasir silika. 

Capaian penjualan yang menembus angka triliunan rupiah menunjukkan fondasi bisnis yang tetap kokoh meskipun tantangan eksternal terus membayangi.

Emiten pertambangan logam PT Ifishdeco Tbk. (IFSH) mencatatkan penjualan Rp1 triliun pada 2025 seiring dengan solidnya bisnis nikel dan pasir silika. Ke depan, diharapkan permintaan nikel global tetap kuat sehingga mendorong performa perseroan.

Pada 2025, IFSH membukukan penjualan bersih konsolidasian sebesar Rp1,00 triliun, meningkat 2,90% dibandingkan Rp972,71 miliar pada 2024. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh peningkatan produksi dan penjualan silica dari entitas anak, PT Hangtian Nur Cahaya.

Kinerja Penjualan Dan Profitabilitas Tetap Solid

Di tengah tantangan fluktuasi harga komoditas, biaya produksi yang variatif, serta dinamika regulasi yang terus berkembang, perseroan mencatat laba kotor sebesar Rp291,25 miliar, turun 3,46%.

Namun, kinerja operasional tetap solid dengan laba usaha sebesar Rp149,31 miliar, atau sedikit menurun 1,53% dibandingkan 2024. Perseroan membukukan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp106,52 miliar, tumbuh 6,40% dari Rp100,11 miliar pada tahun sebelumnya.

Capaian ini menunjukkan kemampuan perusahaan menjaga efisiensi dan profitabilitas meskipun tekanan industri masih terasa. Pertumbuhan laba bersih menjadi indikator bahwa strategi operasional yang dijalankan mampu menopang kinerja secara berkelanjutan.

Optimisme Permintaan Nikel Global

Rivka Rotua Natasya, Corporate Secretary IFSH, menegaskan kinerja 2025 mencerminkan ketahanan perseroan dalam menghadapi kompleksitas fundamental bisnis di tengah dinamika industri nikel yang terus berkembang.

“Memasuki 2026, perseroan tetap optimis terhadap pertumbuhan permintaan nikel global yang kuat, didorong oleh ekspansi sektor penyimpanan energi dan kendaraan listrik. Seiring meningkatnya risiko geopolitik yang memengaruhi industri minyak, dorongan terhadap energi bersih dan kemandirian energi menjadi semakin penting,” paparnya dalam keterangan resmi, Kamis (5/3/2026).

Selain itu, IFSH terus mencermati pergerakan Harga Patokan Mineral (HPM) Indonesia yang belakangan menunjukkan tren positif dan berpotensi memperkuat sentimen di sektor nikel nasional.

Prospek permintaan global yang tetap kuat menjadi landasan optimisme perusahaan dalam menjaga kesinambungan produksi dan penjualan. Perkembangan sektor kendaraan listrik serta kebutuhan penyimpanan energi diyakini akan terus menjadi katalis utama bagi industri nikel.

Penguatan Struktur Keuangan Perusahaan

Dengan struktur permodalan yang semakin solid dan tingkat liabilitas yang menurun, manajemen optimistis IFSH dapat menjaga stabilitas operasional sekaligus menangkap peluang pertumbuhan jangka panjang.

Total aset pada 2025 tercatat sebesar Rp1,06 triliun, meningkat 5,24% dibandingkan posisi akhir 2024 sebesar Rp1,01 triliun.

Perseroan berhasil menurunkan total liabilitas menjadi Rp147,62 miliar, turun 13,12% dari Rp169,93 miliar pada tahun sebelumnya, mencerminkan pengelolaan kewajiban dan strategi deleveraging yang lebih konservatif.

Di sisi lain, total ekuitas meningkat menjadi Rp913,16 miliar, atau naik 8,96% dibandingkan Rp838,04 miliar pada 2024. Saldo laba turut menguat 6,85% menjadi Rp733,55 miliar, mencerminkan akumulasi profitabilitas yang berkelanjutan.

Penguatan struktur keuangan ini memberikan ruang lebih luas bagi perusahaan untuk melakukan ekspansi maupun mengantisipasi volatilitas pasar. Penurunan liabilitas juga menandakan disiplin manajemen dalam menjaga rasio keuangan tetap sehat.

Strategi Hadapi Tantangan Industri Nikel

Industri nikel global masih diwarnai dinamika pasokan, kebijakan ekspor, hingga faktor geopolitik yang memengaruhi rantai pasok energi.

Dalam konteks tersebut, IFSH berupaya mempertahankan efisiensi operasional serta memaksimalkan potensi dari lini bisnis nikel dan pasir silika. Diversifikasi sumber pendapatan melalui entitas anak turut memperkuat daya tahan perusahaan menghadapi siklus komoditas.

Dengan capaian penjualan menembus Rp1 triliun, pertumbuhan laba bersih, serta struktur keuangan yang semakin sehat, IFSH menatap 2026 dengan optimisme terukur. Kombinasi antara prospek permintaan nikel global dan penguatan fundamental internal menjadi fondasi bagi perseroan untuk terus berkembang di tengah persaingan industri yang semakin kompetitif.

Momentum ini sekaligus menegaskan posisi IFSH sebagai salah satu emiten yang mampu menjaga stabilitas kinerja di tengah fluktuasi sektor tambang. Ke depan, konsistensi strategi operasional dan pengelolaan keuangan yang prudent akan menjadi kunci menjaga keberlanjutan pertumbuhan.

Terkini