JAKARTA - Industri cat dekoratif di Indonesia masih menyimpan peluang pertumbuhan meski daya beli sebagian masyarakat belum sepenuhnya pulih.
Kondisi ini mendorong perusahaan di sektor tersebut untuk terus berinovasi dan memperluas jangkauan pasar agar dapat menjaga momentum bisnis. Salah satu perusahaan yang menatap peluang tersebut adalah PT Avia Avian Tbk (AVIA), emiten cat milik pengusaha Hermanto Tanoko.
Perusahaan yang dikenal melalui merek Avian Brands ini menargetkan pertumbuhan pendapatan pada tahun 2026 seiring dengan berbagai strategi ekspansi yang tengah dijalankan.
Optimisme tersebut didukung oleh upaya memperkuat distribusi, meluncurkan produk baru, serta meningkatkan kapasitas produksi guna memenuhi kebutuhan pasar yang terus berkembang.
Manajemen perusahaan menilai bahwa kombinasi strategi tersebut akan menjadi fondasi penting dalam mempertahankan posisi Avian Brands di industri cat dekoratif nasional.
Di tengah kondisi makroekonomi yang masih menghadapi sejumlah tantangan, perusahaan tetap memandang prospek bisnis cat di Indonesia cukup menjanjikan.
Target Pertumbuhan Pendapatan Perusahaan
PT Avia Avian Tbk membidik pertumbuhan pendapatan pada kisaran 6 persen hingga 10 persen sepanjang tahun 2026. Target tersebut sejalan dengan capaian kinerja perusahaan pada tahun sebelumnya.
Head of Investor Relations AVIA Andreas Timothy menyampaikan bahwa perusahaan juga menargetkan pertumbuhan volume penjualan sebesar 4 persen hingga 8 persen pada periode yang sama.
“Untuk tahun buku 2026, AVIA membidik pertumbuhan pendapatan sama seperti tahun lalu yaitu 6% hingga 10% dengan pertumbuhan volume sebesar 4% sampai 8%,” jelas Andreas dalam diskusi bersama media di Jakarta, baru-baru ini.
Selain pertumbuhan pendapatan dan volume penjualan, perusahaan juga mengincar peningkatan laba bersih. Dari sisi profitabilitas, Avian Brands menargetkan laba bersih tumbuh pada kisaran mid single digit hingga dua digit.
Menurut Andreas, target tersebut dinilai realistis mengingat permintaan pasar yang relatif stabil serta berbagai inisiatif operasional yang terus dijalankan oleh perusahaan.
Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, AVIA membukukan laba bersih sebesar Rp1,74 triliun pada tahun 2025. Nilai tersebut meningkat 4,99 persen secara tahunan dibandingkan laba bersih pada tahun 2024 yang sebesar Rp1,66 triliun.
Selain itu, penjualan bersih perseroan juga mencatatkan pertumbuhan sebesar 8,73 persen secara tahunan menjadi Rp8,12 triliun dengan margin laba bersih mencapai 21,5 persen.
Pengaruh Momentum Musiman Terhadap Penjualan
Optimisme terhadap pertumbuhan kinerja perusahaan pada tahun ini juga didukung oleh capaian penjualan pada awal tahun 2026. Andreas menyebutkan bahwa penjualan pada dua bulan pertama tahun ini masih mencatatkan pertumbuhan dua digit dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski demikian, ia mengakui bahwa daya beli masyarakat khususnya pada segmen menengah bawah belum sepenuhnya pulih. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang turut mempengaruhi dinamika permintaan di pasar cat dekoratif.
Menurut Andreas, permintaan cat dekoratif umumnya dipengaruhi oleh momentum musiman, terutama menjelang Hari Raya Idulfitri. Pada periode tersebut, aktivitas pengecatan biasanya meningkat sehingga berdampak positif terhadap penjualan produk cat.
Dalam periode menjelang Lebaran, penjualan cat dekoratif biasanya meningkat sekitar 10 persen hingga 20 persen dibandingkan bulan biasa. Namun setelah momentum tersebut berakhir, aktivitas pengecatan cenderung menurun.
“Biasanya sebulan setelah Lebaran penjualan akan turun karena tukang cat pulang kampung. Jadi, secara total pertumbuhan masih relatif single digit,” katanya.
Fenomena musiman tersebut menjadi pola yang umum terjadi dalam industri cat dekoratif di Indonesia, terutama karena aktivitas konstruksi rumah tangga sering kali meningkat menjelang perayaan besar.
Inovasi Produk Dan Penguatan Kapasitas Produksi
Untuk menjaga momentum pertumbuhan, Avian Brands menyiapkan sejumlah strategi organik yang berfokus pada inovasi produk dan penguatan kapasitas produksi. Perusahaan secara konsisten menghadirkan produk baru guna memperluas portofolio bisnisnya.
Andreas menjelaskan bahwa inovasi produk menjadi salah satu pilar utama dalam strategi pertumbuhan perusahaan. Pada tahun 2025, Avian meluncurkan sebanyak 12 produk baru yang ditujukan untuk memperkuat posisi perusahaan di pasar.
Pada tahun ini, perusahaan juga kembali menyiapkan sejumlah produk baru untuk memperkuat portofolio di segmen solusi arsitektur. Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas pilihan produk bagi konsumen sekaligus meningkatkan daya saing perusahaan.
Selain inovasi produk, perusahaan juga memperkuat kapasitas produksinya melalui pembangunan fasilitas pabrik baru. Avian tengah menyiapkan pabrik baru yang berlokasi di Cirebon dan dijadwalkan mulai commissioning pada Juni 2026.
Pada tahap awal operasional, fasilitas tersebut akan memiliki kapasitas produksi sekitar 100.000 metrik ton dari total kapasitas terpasang sebesar 225.000 metrik ton.
Pabrik ini difokuskan untuk memproduksi wall paint dan waterproofing yang dinilai memiliki prospek pertumbuhan paling kuat di pasar cat dekoratif nasional.
Segmen wall paint sendiri telah menyumbang sekitar 50 persen dari total pasar cat dekoratif di Indonesia dan pada tahun lalu mencatatkan pertumbuhan double digit.
Ekspansi Distribusi Dan Strategi Digitalisasi
Selain memperkuat kapasitas produksi dan inovasi produk, Avian Brands juga mengandalkan kekuatan jaringan distribusinya yang luas. Sejak awal tahun 2000-an, perusahaan telah membangun jaringan distribusi sendiri yang kini mencakup 144 titik distribusi secara nasional.
Jaringan distribusi tersebut memungkinkan produk Avian tersedia lebih dekat dengan konsumen maupun proyek konstruksi. Kondisi ini juga membantu memperkuat loyalitas toko bahan bangunan serta kontraktor terhadap produk perusahaan.
Selain jaringan distribusi, perusahaan juga terus memperluas penggunaan mesin tinting di toko mitra. Mesin tersebut memungkinkan toko menghasilkan berbagai variasi warna dari empat warna dasar sehingga dapat meningkatkan efisiensi inventori dan modal kerja bagi mitra.
Hingga saat ini, Avian telah mengoperasikan sekitar 7.000 unit mesin tinting di berbagai toko bahan bangunan di seluruh Indonesia. Pada tahun 2026, perusahaan menargetkan penambahan sekitar 1.000 unit mesin baru dengan kebutuhan investasi sekitar Rp75 juta per unit atau sekitar Rp75 miliar secara total.
“Kami akan terus memperluas penetrasi mesin tinting. Mesin ini kami pinjamkan secara gratis kepada toko mitra dengan syarat minimum order tertentu,” ujar Andreas.
Di sisi lain, perusahaan juga memperkuat strategi digitalisasi dalam aktivitas penjualan. Sepanjang tahun 2025, Avian menambah lima pusat distribusi baru sehingga total pusat distribusi milik sendiri mencapai 129 titik, didukung oleh 15 pusat distribusi mini serta 38 pusat distribusi pihak ketiga.
Perusahaan juga mengembangkan sistem digital berbasis tablet yang digunakan oleh sekitar 2.000 tenaga penjualan untuk memantau target penjualan serta aktivitas harian.
Melalui sistem tersebut, setiap tenaga penjualan memiliki indikator kinerja utama atau KPI serta daftar aktivitas yang terintegrasi dalam sistem perusahaan.
Selain itu, perusahaan juga menjalankan program loyalitas bagi pemilik toko bahan bangunan dan tukang cat. Menurut Andreas, kedua kelompok tersebut memiliki pengaruh besar dalam menentukan merek cat yang digunakan konsumen di Indonesia.
“Di Indonesia keputusan memilih merek cat sering kali bukan oleh pemilik rumah, tetapi oleh tukang cat dan pemilik toko bangunan. Karena itu kami membuat program loyalitas khusus untuk mereka,” jelasnya.
Hingga akhir tahun 2025, lebih dari 60.000 toko tercatat bertransaksi dengan Avian Brands. Jaringan distribusi yang luas tersebut juga memungkinkan perusahaan mempertahankan tingkat layanan pengiriman satu hari atau one day delivery sekitar 90 persen.
Dengan berbagai strategi tersebut, manajemen meyakini Avian Brands memiliki fondasi yang kuat untuk menjaga pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan sekaligus mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar industri cat dekoratif di Indonesia.