Diet Tayyibat Populer, Dokter Ingatkan Risiko Kesehatan Serius

Senin, 15 Juni 2026 | 04:22:16 WIB
Ilustrasi - Diet Tayyibat. (Foto: NET)

JAKARTA – Diet Tayyibat kini tengah menjadi topik hangat di sejumlah negara Timur Tengah setelah muncul klaim bahwa pola makan tersebut mampu menyembuhkan berbagai penyakit kronis melalui pengaturan asupan nutrisi. 

Namun, otoritas kesehatan di Mesir dan Arab Saudi justru memberikan peringatan tegas mengenai risiko di balik tren ini.

Disarikan dari The National News (5/6/2026) dan Gulf News (8/6/2026), popularitas diet ini melonjak di media sosial karena dianggap sebagai metode alami memulihkan kesehatan tanpa bergantung pada obat-obatan medis. 

Meski demikian, para ahli kesehatan menekankan bahwa mengikuti pola makan tersebut tanpa pengawasan dokter dapat menimbulkan bahaya serius bagi pengidap penyakit kronis.

Diet Tayyibat atau nizam el tayyibat sering disebut sebagai "sistem makanan baik". Metode ini dipopulerkan oleh Diaa El Awady, dokter asal Mesir yang memiliki latar belakang di bidang anestesi dan perawatan intensif, sebelum akhirnya fokus pada nutrisi terapeutik. 

Konsep utamanya membagi makanan menjadi kelompok "baik" (tayyibat) dan "buruk" (khabithat). Pendukungnya meyakini bahwa penyakit kronis dapat diatasi dengan memperbaiki saluran pencernaan serta menghindari bahan pemicu peradangan. Mereka menganjurkan konsumsi daging sapi, kambing, kurma, nasi, kentang, hingga lemak hewani.

Sebaliknya, diet ini justru melarang atau membatasi konsumsi makanan yang selama ini dianggap sehat, seperti sayuran hijau, buah tomat, susu segar, yoghurt, berbagai jenis ikan, serta kacang-kacangan. 

Pasta dan produk berbahan tepung gandum pun turut dihindari. Menurut para pendukungnya, pembatasan ini bertujuan "menenangkan" sistem pencernaan agar tubuh bisa pulih secara mandiri. Pendekatan tersebut menuai kekhawatiran besar di kalangan tenaga medis.

Kementerian Kesehatan Arab Saudi mengungkapkan laporan adanya pasien yang harus dirawat di unit intensif karena menghentikan penggunaan insulin dan menggantinya dengan pola makan tersebut. 

Dalam pernyataannya yang dikutip Gulf News, kementerian menegaskan bahwa tidak ada bukti ilmiah yang cukup untuk mendukung penggunaan diet Tayyibat sebagai pengganti terapi medis yang diresepkan dokter. 

Pihak kementerian juga mengingatkan bahwa menghentikan atau mengurangi obat diabetes tanpa konsultasi dokter dapat memicu komplikasi serius yang mengancam jiwa.

Selain risiko penghentian pengobatan, otoritas kesehatan menyoroti ancaman kekurangan gizi. Menghilangkan kelompok makanan penting tanpa indikasi medis berisiko menyebabkan defisiensi nutrisi. 

Ahli gizi dan dokter endokrin di Mesir memperingatkan bahwa diet ini berpotensi mengurangi asupan protein, kalsium, zat besi, dan vitamin. Ironisnya, diet tersebut justru mendorong konsumsi sumber pati dan gula dalam jumlah yang relatif banyak.

Walaupun dipenuhi kontroversi dan peringatan medis, popularitas diet Tayyibat masih terus meningkat di media sosial. Para pengikutnya di grup Telegram dan TikTok masih gencar membagikan klaim positif terkait kesehatan mereka, bahkan hingga memicu lahirnya bisnis kuliner khusus menu diet ini. 

Menanggapi hal tersebut, otoritas kesehatan Arab Saudi tetap menegaskan bahwa pola makan sehat harus didasarkan pada keberagaman, keseimbangan, serta panduan berbasis bukti ilmiah, bukan sekadar klaim yang belum teruji.

Terkini