Harga Naik Akibat Dolar, Kemendag Dorong Impor Bawang Putih

Senin, 06 Juli 2026 | 22:01:32 WIB
Stabilkan Harga, Kemendag Percepat Impor Bawang Putih [FOTO: NET].

JAKARTA — Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengutarakan penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) menjelma jadi salah satu pemicu yang memicu lonjakan harga komoditas bawang putih di pasar domestik. 

Menilik rujukan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada minggu pertama Juli 2026, banderol harga bawang putih kedapatan masih merangkak naik di 263 kabupaten/kota, melesat dibanding minggu sebelumnya yang membukukan angka 251 kabupaten/kota.

Sekretaris Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Bambang Wisnubroto memaparkan otoritas pemerintah terus memacu realisasi impor bawang putih guna menambah ketersediaan pasokan sekaligus meredam tren kenaikan harga. 

Basis data Kemendag memperlihatkan, per tanggal 3 Juli 2026, realisasi masuknya komoditas impor bawang putih baru menyentuh angka 225.195 ton atau setara 58,55% dari kumulatif Persetujuan Impor (PI) yang telah dikeluarkan. 

Padahal di sepanjang tahun berjalan ini, pemerintah mengalokasikan kuota PI bawang putih sebanyak 601.065 ton, sedangkan PI yang sudah disahkan berada di angka 384.605 ton atau mencakup 59 PI.

“Dari 601.065 ton ini, kami laporkan realisasi impor per 3 Juli 2026, kami dari Kementerian Perdagangan telah menerbitkan PI sebanyak 384.605 ton atau 59 PI. Kemudian realisasi impor sampai dengan tanggal 3 Juli sebanyak 225.195 ton. Atau realisasi dari PI yang telah diterbitkan saat ini sebesar 58,55%. Memang ini kami terus akan akselerasi,” kata Bambang dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang disiarkan melalui YouTube Kemendagri, Senin (6/7/2026).

Jika bersandar pada Neraca Pangan 2026 yang diformulasikan Badan Pangan Nasional (Bapanas), total kebutuhan bawang putih nasional di sepanjang 2026 diproyeksikan berada di kisaran 683.136 ton atau berkisar 56.928 ton tiap bulannya. 

Pasokan kebutuhan tersebut disokong oleh cadangan stok awal 2026 sebesar 58.298 ton serta volume produksi dalam negeri yang ditaksir menyentuh 23.793 ton, dengan estimasi tingkat susut mencapai 13.590 ton.

Walhasil, pihak pemerintah mematok volume kebutuhan impor bawang putih di angka 601.065 ton. Lewat skema hitungan tersebut, persediaan stok bawang putih pada pamungkas tahun 2026 diprediksi masih menyisakan kurang lebih 13.610 ton.

Lebih jauh, Bambang menguraikan Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri pun sudah melayangkan imbauan kepada para importir yang telah mengantongi dokumen PI untuk lekas merealisasikan agenda impor. 

Prosedur tersebut bakal terus dipantau demi memastikan pasokan komoditas bawang putih lekas bertambah. Dia memaparkan harga bawang putih di barisan importir saat ini telah menyentuh kisaran Rp29.000 per kilogram. Eskalasi tersebut selanjutnya berimbas terhadap banderol jual di tingkat pengecer.

“Karena memang kalau kami lihat harga di tingkat importir sekarang sudah mencapai level Rp29.000. Ini tentunya berdampak ke harga di tingkat eceran,” katanya.

Menurut pandangan Bambang, fluktuasi kenaikan harga tidak semata didorong oleh mahalnya harga di wilayah negara asal, melainkan turut terdampak oleh penguatan kurs dolar AS atas mata uang rupiah. Di samping itu, siklus musim panen di China selaku negara pemasok utama komoditas bawang putih ikut mendominasi penentuan harga.

“Dan memang hal ini dipicu, ini sama halnya seperti kedelai karena memang faktor kurs dolar ini sangat berpengaruh. Kemudian di China juga baru panen, ini sangat berpengaruh terhadap pembentukan harga bawang putih itu sendiri,” ujarnya.

Kondisi ini terjadi mengingat Indonesia sejauh ini masih menggantungkan diri pada jalur impor demi mencukupi di atas 90% kebutuhan total bawang putih nasional. 

Keadaan itu memicu harga bawang putih domestik tergolong sangat peka terhadap dinamika harga di wilayah negara pemasok, fluktuasi nilai tukar rupiah atas dolar AS, hingga pembengkakan biaya logistik.

Di luar penguatan mata uang dolar, Kemendag mencatat eskalasi konflik geopolitik di wilayah Timur Tengah yang menghambat jalur pelayaran internasional via Selat Hormuz ikut mendongkrak tarif angkutan kargo laut global. 

Fenomena tersebut terefleksikan dari lonjakan China Containerized Freight Index (CCFI) yang pada gilirannya mengerek naik biaya pengadaan impor bawang putih.

Untuk itu, Bambang menegaskan Kemendag bakal mengakselerasi pemenuhan PI yang telah dikeluarkan sebanyak kurang lebih 384.605 ton bawang putih, sekaligus memacu proses penerbitan PI untuk sisa kuota alokasi impor selaras dengan neraca komoditas.

“Prinsipnya, kami akan segera mendorong para importer untuk segera merealisasikan PI yang sudah diterbitkan, yang 384.000 ton kurang lebih. Jadi akan segera kami ekselerasi, termasuk untuk mengakselerasi penerbitan PI dari alokasi yang sudah ditetapkan sesuai dengan neraca komoditas. Mungkin itu terkait dengan bawang putih yang bisa kami respon,” terangnya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Tomsi Tohir melayangkan usulan agar rantai distribusi logistik bawang putih impor tidak semata bertumpu di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. 

Menurut pandangannya, pasokan impor yang berlabuh langsung via pelabuhan di kawasan Indonesia Timur, semisal Makassar ataupun Balikpapan, bakal mempercepat distribusi komoditas bawang putih ke regional timur Indonesia sehingga berpeluang menekan harga jual.

“Memang kalau bisa dikumpulkan, disarankan, mereka masuk langsung pelabuhannya di wilayah Timur, Makassar begitu atau Balikpapan, sehingga penyebarannya lebih cepat lagi itu, Pak. Dan itu akan membantu untuk penurunan harga yang cukup signifikan,” pungkasnya.

Terkini