Bahlil Ungkap Progres Negosiasi Ekspor Listrik ke Singapura

Selasa, 07 Juli 2026 | 21:48:31 WIB
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. (Foto: NET)

JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa saat ini proses negosiasi mengenai harga listrik hijau yang bakal diekspor Indonesia ke Singapura tengah berjalan. Upaya ini dilakukan demi memastikan tercapainya keuntungan ekonomi yang adil bagi kedua belah pihak.

"Nah, terkait dengan harga listrik ke Singapura, proses tahapannya berjalan, tetapi kami masih menegosiasikan harga. Regulasi kami memang menempatkan harga itu di pemerintah. Kami ingin ada win-win, saling menguntungkan,” ungkap Bahlil, Selasa (7/7/2026).

Bahlil menyebutkan bahwa berdasarkan aturan yang berlaku di Indonesia, otoritas dalam menetapkan tarif listrik berada di tangan pemerintah. 

Ia menekankan bahwa Indonesia membidik sebuah kesepakatan yang bukan sekadar membuka keran ekspor energi, melainkan mampu mendatangkan keuntungan ekonomi yang seimbang bagi kedua negara.

“Kami ingin ada win-win, saling menguntungkan. Kerja sama itu harus saling menguntungkan kedua pihak. Tinggal di titik itu saja dan saya pikir sebentar lagi akan ada titik temu," tuturnya.

Ia melihat dinamika kerja sama antara Indonesia dan Singapura ini menunjukkan tren yang positif, sekalipun proses pembahasan harga belum sepenuhnya final. 

Proyeksi perdagangan listrik lintas negara ini menjadi bagian krusial dalam memperkokoh relasi ekonomi kedua negara, terutama pada sektor transisi energi dan pengembangan energi hijau. Kendati demikian, tercapainya mufakat atas harga tetap menjadi kunci utama agar kolaborasi ini bisa segera berjalan.

Penetapan harga yang adil dinilai sangat vital agar aktivitas ekspor listrik ini tidak sekadar menjadi aktivitas bisnis biasa, tetapi juga mampu memberikan dampak ekonomi yang konkret bagi Indonesia serta menjaga keberlanjutan kemitraan energi dengan Singapura.

Kolaborasi ekspor listrik hijau ini merupakan bagian dari kelanjutan komitmen di bidang energi yang telah disepakati sejak tahun lalu. 

Di samping pengiriman listrik hijau, sinergi kedua negara juga menyasar pada pembangunan kawasan industri hijau serta teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon (carbon capture and storage/CCS).

Di luar sektor energi, dialog bilateral antara Indonesia dan Singapura turut mengulas beragam aspek kerja sama lainnya, meliputi sektor perdagangan, investasi, konektivitas, ekonomi digital, keamanan siber, hingga pertahanan. 

Dari total 26 komitmen yang berhasil disepakati, sebanyak 18 poin di antaranya merupakan kolaborasi antarpemerintah (G-to-G), sementara delapan poin sisanya melibatkan kerja sama antarpelaku usaha (B-to-B).

Terkini