JAKARTA - Hubungan politik antara Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) kembali menjadi sorotan setelah pertemuan hangat kedua partai berlangsung di kantor DPP Partai Demokrat, Menteng, Jakarta Pusat. Di tengah dinamika politik nasional yang terus berubah, kehadiran jajaran DPP PKS dalam agenda silaturahmi kebangsaan tersebut menjadi momentum yang menegaskan arah baru kerja sama mereka.
Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) memanfaatkan kesempatan ini untuk mengingat kembali perjalanan panjang hubungan kedua partai, termasuk fase kerja sama mereka dalam Tim 8 saat Pilpres 2024 silam. Dengan pendekatan yang lebih reflektif, AHY menggambarkan bahwa kebersamaan yang pernah terjalin merupakan fondasi kuat yang kini kembali dikuatkan.
Melalui pertemuan itu, nuansa nostalgia sekaligus optimisme tampak berpadu. AHY bukan hanya mengulas sejarah, tetapi juga menegaskan bahwa pelajaran dari masa lalu telah memperkaya cara kedua partai menapaki fase politik baru. Silaturahmi tersebut, selain memperkokoh hubungan, juga menunjukkan bahwa Demokrat dan PKS kembali menemukan ruang kolaborasi setelah sempat berbeda arah dalam kontestasi politik sebelumnya.
Memori yang Tetap Melekat dari Tim Delapan
Pada momen silaturahmi kebangsaan tersebut, AHY memperlihatkan foto Tim 8 kepada para pengurus DPP PKS yang hadir. Foto itu bukan sekadar dokumentasi, melainkan representasi dari periode penting ketika Demokrat dan PKS berada dalam satu barisan untuk membantu Anies Baswedan mencari calon wakil presiden di Pilpres 2024. Kenangan itu menjadi pengingat bahwa hubungan kedua partai dibangun melalui proses panjang yang melibatkan kepercayaan, intensitas komunikasi, dan dinamika negosiasi.
“Bapak-Ibu sekalian masih ingat ini? Masih ingat Tim Delapan? Kok pas ya delapan angkanya? Ini adalah kenangan tapi juga sejarah, betul?” kata AHY. Ucapan tersebut menegaskan bahwa keterlibatan Demokrat dan PKS dalam Tim 8 bukan sekadar kerja teknis, tetapi bagian dari jejak kerja sama yang memiliki nilai emosional maupun historis.
AHY juga menilai bahwa perjalanan koalisi Demokrat–PKS di masa lalu memberikan banyak pelajaran berharga. Menurutnya, apa yang pernah dilalui adalah bagian dari pematangan demokrasi di Indonesia. “Sejarah yang indah karena selalu ada hikmah dari itu semuanya,” ujarnya, menggambarkan perspektif positif meski dinamika politik saat itu tidak selalu berjalan mulus.
Silaturahmi Politik yang Menyiratkan Harmoni
Dalam pertemuan tersebut, suasana penuh keakraban terlihat jelas ketika AHY menyampaikan pantun kepada Presiden PKS Almuzzammil Yusuf beserta jajaran pengurus yang hadir. Pantun tersebut menggambarkan bagaimana hubungan Demokrat dan PKS sempat berpisah setelah pencalonan presiden 2024, namun kembali menemukan titik temu melalui komunikasi dan silaturahmi yang intens.
“Dulu kita bersatu di perubahan, apa kata pisah di tengah jalan. Yang penting jaga silaturahmi dan persahabatan, karena untuk Indonesia kita satu harapan dan tujuan,” ujar AHY. Penyampaian pantun ini menjadi simbol bahwa perbedaan dalam politik tidak harus menghasilkan jarak permanen. Sebaliknya, komunikasi yang baik mampu membawa kedua pihak kembali dalam satu ruang dialog.
Kedekatan ini sekaligus menandakan bahwa silaturahmi kebangsaan bukan hanya agenda formal, melainkan cara untuk menjaga dinamika politik tetap sehat. Dengan pertemuan semacam ini, AHY ingin menegaskan bahwa perbedaan pilihan politik di masa lalu seharusnya tidak menjadi penghalang untuk bekerja sama kembali ketika situasi memungkinkan.
Penguatan Kerja Sama Menuju Arah Politik Baru
Usai mengenang masa lalu, AHY menegaskan bahwa hubungan Demokrat dan PKS kini berada dalam posisi yang kembali solid. Dalam sudut pandangnya, fase politik saat ini merupakan kesempatan baru untuk membangun kolaborasi yang lebih konkret, terlebih karena kedua partai sudah berada di dalam pemerintahan.
“Jadi tentunya kita bersyukur kini kita bersatu kembali, bersinergi, berkolaborasi dalam pemerintahan,” kata AHY. Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa kedua partai tidak hanya bernostalgia, tetapi juga serius mempersiapkan langkah politik bersama.
Lebih jauh, AHY juga mengingatkan bahwa sejarah kebersamaan Demokrat dan PKS sesungguhnya telah dimulai jauh sebelum dinamika Pilpres 2024. Ia menyampaikan bahwa kedua partai memiliki pengalaman bekerja sama dalam koalisi pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dari 2004 hingga 2014. Setelah itu, keduanya sama-sama berada di luar pemerintahan selama dua periode, hingga akhirnya pada 2024 kembali dipertemukan dalam konfigurasi politik baru.
“Nah 2024 kita sudah lewati semua dan kini kita kembali dipersatukan. Alhamdulillah,” tutup AHY.
Kolaborasi Demokrat–PKS yang menguat ini menandai arah baru politik nasional, sekaligus menunjukkan bahwa pengalaman masa lalu tetap menjadi modal penting dalam membangun sinergi ke depan.