MVA

Indonesia Masuk Jajaran Negara dengan MVA Tertinggi di Dunia

Indonesia Masuk Jajaran Negara dengan MVA Tertinggi di Dunia
Indonesia Masuk Jajaran Negara dengan MVA Tertinggi di Dunia

JAKARTA - Kinerja sektor manufaktur Indonesia semakin menunjukkan perkembangan positif pada tahun 2025, yang berujung pada pencapaian prestasi global. 

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR RI, mengungkapkan bahwa Indonesia kini masuk dalam jajaran negara dengan Manufacturing Value Added (MVA) tertinggi di dunia. 

Menurutnya, sektor manufaktur Indonesia telah mengalami penguatan struktural yang signifikan sepanjang tahun 2024, yang tercermin dari nilai tambah yang terus meningkat.

Capaian Indonesia yang berhasil melampaui rata-rata global dalam sektor manufaktur menjadi bukti bahwa transformasi industri berbasis produktivitas dan efisiensi berjalan dengan baik.

 Agus menegaskan bahwa MVA Indonesia untuk tahun 2024 tercatat sebesar USD 265,07 miliar, sebuah angka yang jauh di atas rata-rata global yang berada di kisaran USD 78,73 miliar. 

Pencapaian ini menempatkan Indonesia pada posisi ke-13 di dunia, sebuah posisi yang menunjukkan peningkatan daya saing sektor manufaktur di pasar internasional.

Pencapaian Posisi Indonesia di Peringkat MVA Global

Indonesia berhasil menempati peringkat ke-13 dunia dalam hal MVA pada tahun 2024. Agus Gumiwang Kartasasmita menjelaskan bahwa capaian ini menggambarkan penguatan daya saing industri manufaktur Indonesia di level global.

 Menurutnya, pencapaian ini tidak hanya mencerminkan kemajuan dari sektor manufaktur, tetapi juga menunjukkan posisi Indonesia yang semakin kuat di kancah internasional.

"Manufacturing Value Added Indonesia pada tahun 2024 mencapai USD 265,07 miliar. Dengan capaian ini, Indonesia sudah menempati posisi ke-13 dunia," kata Agus.

Ini menandakan bahwa sektor manufaktur Indonesia tidak hanya berkembang pesat, tetapi juga bersaing di level internasional.

Posisi Indonesia di Asia dan ASEAN

Di tingkat Asia, Indonesia berada di peringkat kelima setelah negara-negara besar seperti Tiongkok, Jepang, India, dan Korea Selatan. 

Meski demikian, Agus menilai bahwa pencapaian ini sangat signifikan, mengingat Indonesia mampu berada di posisi yang sangat kompetitif di antara negara-negara industri terbesar di Asia. 

Indonesia bahkan menyalip negara-negara seperti Thailand dan negara lainnya di kawasan ASEAN, dengan catatan bahwa Thailand hanya mencatatkan setengah dari capaian Indonesia.

Selain itu, Agus menambahkan bahwa Indonesia menduduki posisi pertama di kawasan ASEAN dalam hal MVA, yang menunjukkan dominasi industri manufaktur Indonesia di kawasan ini. 

Dengan kontribusi Indonesia yang sangat besar, sektor manufaktur ASEAN kini semakin memperlihatkan keberagaman dan kekuatan industri yang mampu bersaing di pasar global.

Peran Ekspor dalam Meningkatkan Kinerja Manufaktur

Capaian Indonesia yang berhasil masuk dalam jajaran negara dengan MVA tertinggi di dunia, tidak terlepas dari peran sektor ekspor yang terus berkembang. Agus Gumiwang Kartasasmita menekankan pentingnya kontribusi ekspor terhadap perekonomian Indonesia. 

Sepanjang Januari hingga November 2025, ekspor industri pengolahan nonmigas Indonesia tercatat mencapai USD 205,93 miliar, yang menyumbang sekitar 80,27 persen dari total ekspor nasional.

"Ekspor industri pengolahan nonmigas mencapai 205,93 miliar dolar Amerika. Neraca perdagangan industri pengolahan nonmigas mencatat surplus sebesar 35,95 miliar dolar," ujar Agus. 

Surplus ini menunjukkan bahwa daya saing produk Indonesia di pasar global semakin meningkat, yang tidak hanya mendongkrak perekonomian negara, tetapi juga meningkatkan posisi Indonesia dalam persaingan industri manufaktur internasional.

Peluang dan Tantangan Ekspansi Pasar Global

Meskipun sektor manufaktur Indonesia menunjukkan angka yang sangat menggembirakan, Agus menyebutkan bahwa struktur output industri masih didominasi oleh permintaan domestik. 

Sekitar 78,39 persen output manufaktur Indonesia diserap oleh pasar domestik, sementara hanya 21,61 persen yang diekspor. Agus menyebutkan bahwa ini membuka peluang yang sangat besar untuk ekspansi nilai tambah industri Indonesia ke pasar global.

Dengan total output manufaktur Indonesia yang mencapai Rp8.381 triliun pada 2024, Agus optimistis bahwa sektor ini akan terus berkembang dan memperluas kontribusinya di pasar internasional. Pemerintah, lanjutnya, mendorong peningkatan kontribusi ekspor bernilai tambah yang lebih tinggi. 

"Saya yakin dalam dua atau tiga tahun Indonesia bisa menyalip negara-negara Asia yang saat ini berada di atas," ujar Agus.

Peluang besar ini juga akan membuka jalan bagi peningkatan produktivitas dan efisiensi sektor manufaktur Indonesia. Salah satu langkah penting adalah memaksimalkan potensi pasar global yang masih terbuka lebar. 

Dengan terus mendorong ekspor produk bernilai tambah, Indonesia dapat memperkuat posisinya di dunia manufaktur.

Optimisme untuk Masa Depan Sektor Manufaktur Indonesia

Keberhasilan sektor manufaktur Indonesia pada 2024 menjadi cerminan dari kerja keras pemerintah dan industri dalam mencapai peningkatan yang signifikan. 

Agus optimistis bahwa dengan strategi yang tepat dan dukungan penuh dari berbagai pihak, Indonesia akan terus maju dalam sektor manufaktur dan semakin bersaing di tingkat global.

"Posisi kita di MVA global yang semakin baik ini menunjukkan kekuatan sektor manufaktur Indonesia, dan saya yakin ini adalah awal dari perkembangan yang lebih besar lagi di masa depan," ujar Agus. Dengan pencapaian ini, Indonesia kini berada di jalur yang tepat untuk menjadi pemain utama dalam industri manufaktur global.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index