JAKARTA - Di tengah meningkatnya urgensi penurunan emisi karbon dan target Net Zero yang diadopsi banyak negara, gas alam semakin diposisikan sebagai elemen kunci dalam peta transisi energi global. Di saat energi terbarukan belum sepenuhnya mampu menggantikan bahan bakar fosil secara stabil dan masif, gas alam hadir sebagai solusi antara yang realistis, fleksibel, dan relatif lebih bersih.
Gas alam dalam berbagai bentuk, seperti CNG, LNG, dan LPG, tidak hanya menawarkan emisi yang lebih rendah dibandingkan batu bara dan minyak, tetapi juga berperan sebagai sumber energi transisi yang menjembatani sistem energi konvensional menuju sistem energi rendah karbon. Dalam konteks ini, pengembangan pasar gas alam dipandang sebagai tren yang tidak terelakkan, khususnya bagi negara-negara yang tengah mengalami pertumbuhan ekonomi dan kebutuhan energi yang terus meningkat.
Komitmen Net Zero dan Peran Gas Alam
Ketua Asosiasi Perminyakan Vietnam, Dr. Nguyen Quoc Thap, menegaskan bahwa Vietnam telah berkomitmen untuk mencapai Net Zero pada tahun 2050. Sejalan dengan komitmen tersebut, transisi energi menjadi sebuah keniscayaan yang bersifat objektif dan tidak dapat dihindari.
Dalam kerangka transisi ini, peran gas alam menjadi sangat jelas. Gas alam telah diidentifikasi oleh para ahli internasional sebagai sumber energi “penghubung” yang menjembatani peralihan dari bahan bakar fosil tradisional seperti batu bara dan minyak—yang memiliki tingkat emisi tinggi—menuju sumber energi yang lebih bersih. Dengan emisi yang lebih rendah, cadangan yang relatif melimpah, serta distribusi yang luas di berbagai kawasan dunia, gas alam dinilai hampir menjadi sumber energi yang wajib dalam proses transisi energi.
Menurut Dr. Thap, gas alam memainkan peran mendasar dalam memastikan keamanan energi sekaligus menurunkan emisi karbon secara bertahap. Dalam situasi di mana kebutuhan energi terus meningkat, gas alam memberikan keseimbangan antara keberlanjutan lingkungan dan keandalan pasokan.
Fleksibilitas dan Stabilitas Sistem Energi
Pandangan serupa disampaikan oleh Ketua Asosiasi Energi Bersih Vietnam, Dr. Mai Duy Thien. Ia menilai bahwa gas alam tidak hanya berkontribusi pada penurunan emisi dibandingkan batu bara dan minyak, tetapi juga menghadirkan fleksibilitas serta stabilitas dalam sistem energi.
Gas alam memiliki peran penting dalam sektor pembangkit listrik, industri, dan transportasi. Bagi Vietnam, permintaan energi diproyeksikan terus meningkat secara signifikan dalam beberapa dekade ke depan, seiring dengan laju industrialisasi, urbanisasi, serta integrasi yang semakin dalam ke dalam rantai nilai regional dan global.
Namun, di sisi lain, sumber energi primer domestik Vietnam justru mengalami tren penurunan. Energi terbarukan memang berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir, tetapi masih membutuhkan waktu untuk menyempurnakan infrastruktur, teknologi penyimpanan, serta mekanisme pasar yang mendukung pemanfaatannya secara optimal.
Gas Alam dan Keamanan Energi Nasional
Dalam kondisi tersebut, Dr. Thien menekankan bahwa pengembangan pasar gas alam yang sinkron, transparan, dan berkelanjutan menjadi kebutuhan strategis. Langkah ini berkaitan erat dengan tujuan menjamin keamanan energi nasional sekaligus memenuhi komitmen Net Zero yang telah ditetapkan.
Gas alam memberikan ruang bagi negara untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan energi jangka pendek dan tujuan dekarbonisasi jangka panjang. Tanpa kehadiran gas alam, risiko gangguan pasokan energi dan ketidakstabilan sistem akan semakin besar, terutama ketika energi terbarukan belum sepenuhnya siap menggantikan peran energi fosil.
Pengganti Batu Bara dan Penopang Energi Terbarukan
Wakil Presiden Asosiasi Energi Bersih Vietnam, Profesor Madya Pham Hoang Luong, menambahkan bahwa gas alam dapat secara efektif menggantikan batu bara dan minyak, khususnya dalam pembangkit listrik. Dengan demikian, ketergantungan pada impor batu bara untuk pembangkit listrik tenaga termal dapat dikurangi secara signifikan.
Lebih dari itu, pembangkit listrik berbasis gas memungkinkan sistem kelistrikan beroperasi secara lebih fleksibel. Fleksibilitas ini sangat penting untuk mendukung integrasi sumber energi terbarukan dalam skala besar, seperti tenaga angin dan tenaga surya, yang bersifat intermiten dan bergantung pada kondisi alam.
Dengan dukungan pembangkit listrik tenaga gas, sistem energi dapat menyesuaikan pasokan secara cepat ketika produksi energi terbarukan menurun, sehingga stabilitas jaringan listrik tetap terjaga.
Urgensi Strategi Jangka Panjang LNG
Para ahli ekonomi menilai bahwa saat ini merupakan momentum yang tepat untuk merumuskan strategi jangka panjang pengembangan gas alam cair (LNG). Vietnam sendiri telah mengeluarkan berbagai kebijakan yang mendorong investasi pada model dan solusi energi hijau, serta secara bertahap mendekati standar internasional dalam pengelolaan energi.
Namun demikian, Direktur Pengembangan Bisnis GreenYellow Energy Investment Fund, Le Anh Tuan, menilai bahwa kebijakan yang ada saat ini belum sepenuhnya menciptakan insentif yang cukup bagi pelaku usaha untuk berinvestasi jangka panjang dengan tingkat kepercayaan yang tinggi. Ia menyoroti bahwa mekanisme kebijakan masih belum stabil dan sulit diprediksi.
Tantangan Kebijakan dan Investasi Infrastruktur
Ketua Asosiasi Perminyakan Vietnam, Nguyen Quoc Thap, juga mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam pengembangan gas alam saat ini terletak pada pola pikir dan kurangnya koordinasi dalam implementasi kebijakan. Regulasi yang tumpang tindih kerap menciptakan hambatan bagi dunia usaha.
Selain itu, harga LNG sangat dipengaruhi oleh fluktuasi pasar energi global dan faktor geopolitik. Sementara itu, mekanisme kebijakan domestik masih dalam tahap penyempurnaan. Investasi infrastruktur gas membutuhkan modal yang sangat besar dengan jangka waktu pengembalian yang panjang. Jika investor tidak melihat peluang keuntungan yang wajar atau menghadapi risiko kebijakan yang tinggi, minat investasi akan melemah.
Peran Negara dalam Menjamin Keseimbangan Energi
Dari sudut pandang pemerintah, Wakil Direktur Departemen Kelistrikan Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Vietnam, Bui Quoc Hung, menegaskan bahwa pengembangan sektor kelistrikan, khususnya pembangkit listrik tenaga gas dan infrastruktur transmisi, merupakan hal yang sangat penting.
Pemerintah telah mengeluarkan berbagai mekanisme dan kebijakan, termasuk resolusi terbaru Majelis Nasional yang memungkinkan penyesuaian perencanaan secara lebih fleksibel. Dengan kebijakan ini, penyesuaian perencanaan tidak lagi terikat pada siklus lima tahunan, melainkan dapat dilakukan sesuai kebutuhan untuk menjaga keseimbangan daya dan keamanan pasokan listrik nasional.
Melalui pendekatan ini, gas alam diharapkan dapat terus memainkan peran strategis sebagai sumber energi transisi yang andal, sekaligus mendukung langkah menuju sistem energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.