JAKARTA - Minat masyarakat terhadap produk pembiayaan emas berbasis syariah menunjukkan tren yang semakin kuat. Hal ini tercermin dari lonjakan transaksi cicil emas PT Bank Syariah Nasional (BSN) selama keikutsertaannya dalam ajang BTN Expo.
Dalam kurun waktu sekitar satu bulan, nilai pembiayaan emas BSN meningkat tajam, mencerminkan strategi diversifikasi pembiayaan konsumer yang mulai membuahkan hasil sejak bank tersebut resmi beroperasi sebagai bank umum syariah.
Lonjakan Pembiayaan Emas di Ajang Pameran
PT Bank Syariah Nasional (BSN) mencatat pertumbuhan signifikan pada produk pembiayaan emas selama penyelenggaraan BTN Expo. Dalam periode kurang lebih satu bulan, nilai pembiayaan emas perseroan melonjak hampir 400 persen, dari sekitar Rp 17 miliar menjadi Rp 50 miliar. Kinerja tersebut menjadi indikator kuat meningkatnya minat nasabah terhadap produk cicil emas berbasis prinsip syariah.
Pencapaian tersebut juga sejalan dengan upaya BSN untuk mendorong ekspansi pembiayaan konsumer pada 2026. Perseroan menargetkan total pembiayaan konsumer mencapai sekitar Rp 1 triliun, dengan produk non-KPR menjadi salah satu motor pertumbuhan baru di luar bisnis inti perumahan.
Direktur Consumer Banking BSN, Mochamad Yut Penta, mengatakan bahwa peningkatan pembiayaan emas tidak terlepas dari fokus pemasaran kepada nasabah existing serta penguatan kerja sama dengan supplier emas. Strategi ini dinilai efektif dalam meningkatkan volume transaksi dalam waktu relatif singkat.
Strategi Diversifikasi Portofolio Pembiayaan
Menurut Penta, BSN saat ini masih berfokus mempertahankan posisi sebagai pemimpin di sektor pembiayaan perumahan, khususnya KPR syariah. Namun, di saat yang sama, perseroan juga mendorong peningkatan kualitas kinerja finansial melalui diversifikasi portofolio pembiayaan.
“Kami memang masih baru, sehingga strategi utama kami tetap menjadi pemimpin di sektor perumahan, khususnya pembiayaan KPR syariah. Di saat yang sama, kami juga berupaya meningkatkan kualitas finansial melalui diversifikasi portofolio pembiayaan,” kata Penta.
Ekspansi ke segmen non-KPR menjadi bagian penting dari strategi tersebut. Selain pembiayaan emas dan cicil emas, BSN juga mengembangkan pembiayaan multiguna serta multijasa berbasis payroll. Menurut Penta, pembiayaan emas kini menjadi salah satu produk non-KPR yang diprioritaskan karena memiliki potensi pasar yang besar dan sejalan dengan kebutuhan masyarakat.
“Karena itu, kami tidak hanya fokus pada KPR, tetapi juga merambah ke pembiayaan non-KPR, seperti pembiayaan emas dan cicil emas, serta pembiayaan multiguna dan multijasa sesuai prinsip syariah,” imbuhnya.
Target Pertumbuhan Pembiayaan Konsumer
Seiring penguatan portofolio non-KPR, BSN menargetkan total pembiayaan konsumer pada 2026 mencapai sekitar Rp 1 triliun. Namun, Penta menegaskan bahwa target tersebut masih dalam tahap pengkajian dan review bersama regulator untuk memastikan kesesuaiannya dengan kondisi pasar dan kesiapan internal bank.
“Untuk pembiayaan non-KPR, kami akan lebih agresif. Namun kami tetap memiliki strategi untuk mempertahankan posisi sebagai pemimpin KPR berbasis prinsip syariah,” ujarnya.
Di sisi lain, pembiayaan perumahan yang menjadi core business BSN masih menunjukkan kinerja positif. Tren KPR syariah pada tahun ini dinilai tetap tumbuh, didorong oleh kinerja KPR subsidi sepanjang tahun lalu yang mencatatkan pertumbuhan paling besar. Realisasi pembiayaan KPR subsidi bahkan tumbuh di atas 20 persen sepanjang tahun lalu.
Penta menambahkan bahwa tingginya minat generasi muda terhadap produk pembiayaan berbasis prinsip syariah turut menjadi faktor pendorong pertumbuhan pembiayaan perumahan. Kondisi ini memperkuat optimisme BSN dalam menjaga kinerja KPR syariah di tengah upaya ekspansi ke segmen non-KPR.
Penguatan Layanan dan Akses Nasabah
Dari sisi pemasaran, BSN menitikberatkan strategi pada penguatan eksistensi dan peningkatan kapasitas layanan. Pada 2026, BSN memperoleh kuota sekitar 73.000 unit rumah subsidi, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 59.000 unit rumah.
“Strategi paling mendasar adalah menyampaikan kepada masyarakat bahwa BSN sudah fully operation dan layanan kami sudah bisa dinikmati lebih luas. Kami juga memperkuat marketing communication, kapasitas dan efisiensi,” jelas Penta.
Untuk memperluas akses layanan kepada nasabah, BSN juga mengembangkan Bale Syariah by BSN, layanan digital yang berbagi platform dengan BTN Bale milik induk usaha. Inisiatif ini menjadi bagian dari strategi perseroan dalam meningkatkan kualitas layanan sekaligus menjangkau lebih banyak nasabah di segmen konsumer.
Sejak resmi beroperasi sebagai bank umum syariah pada 22 Desember 2025, BSN terus memperkuat lini bisnis konsumer dengan pendekatan diversifikasi produk. Lonjakan transaksi cicil emas selama BTN Expo menjadi salah satu bukti awal efektivitas strategi tersebut, sekaligus mencerminkan potensi pertumbuhan pembiayaan syariah di tengah kebutuhan masyarakat yang semakin beragam.