JAKARTA - Kinerja keuangan perusahaan pertambangan kembali menjadi sorotan setelah sejumlah emiten merilis laporan tahunan mereka.
Salah satu yang menarik perhatian adalah PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE), perusahaan yang dikenal sebagai bagian dari kelompok usaha Haji Isam.
Perusahaan ini mempublikasikan laporan keuangan untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2025 dengan hasil yang menunjukkan dinamika pada berbagai pos keuangan.
Di tengah tantangan industri, perusahaan tetap mampu mencatatkan keuntungan meskipun nilainya mengalami sedikit koreksi dibandingkan periode sebelumnya. Laporan tersebut memperlihatkan bagaimana perubahan pada pendapatan, beban operasional, hingga struktur permodalan memengaruhi hasil akhir kinerja perseroan.
Sepanjang tahun 2025, TEBE mencatatkan laba bersih sebesar Rp132,72 miliar. Nilai tersebut mengalami penurunan tipis sebesar 0,34 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp133,19 miliar.
Meski penurunan yang terjadi relatif kecil, kondisi tersebut tetap mencerminkan adanya tekanan terhadap kinerja perusahaan sepanjang tahun berjalan.
Penurunan tipis laba tersebut juga tercermin pada laba per saham dasar perseroan. Pada periode laporan terbaru, laba per saham dasar tercatat sebesar Rp103,29, sedikit lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di level Rp103,65.
Di sisi lain, pendapatan usaha perusahaan mengalami penurunan yang cukup terasa. Sepanjang tahun 2025, pendapatan TEBE tercatat sebesar Rp483,19 miliar. Angka ini menurun 14,73 persen dibandingkan pendapatan tahun sebelumnya yang mencapai Rp566,67 miliar.
Sumber Pendapatan Usaha Perseroan
Seluruh pendapatan yang diperoleh perseroan berasal dari aktivitas bisnis yang berkaitan dengan sektor pertambangan. Kontribusi terbesar berasal dari segmen fasilitas penunjang pertambangan serta layanan penyewaan alat berat.
Segmen tersebut menghasilkan pendapatan sebesar Rp483,19 miliar. Selain itu, perusahaan juga mencatat pendapatan dari jasa manajemen sebesar Rp35,52 miliar. Namun dalam laporan keuangan, angka tersebut kemudian dikurangi dengan eliminasi sebesar Rp35,52 miliar sehingga nilai akhirnya tetap sama dengan total pendapatan usaha yang dilaporkan.
Kinerja pendapatan yang menurun ini mencerminkan dinamika dalam aktivitas bisnis penunjang pertambangan yang dijalankan oleh perusahaan. Meski demikian, perusahaan masih mampu menjaga kinerja operasional melalui berbagai langkah efisiensi pada sejumlah pos pengeluaran.
Efisiensi Beban Operasional Perusahaan
Di tengah penurunan pendapatan, perusahaan berhasil menekan sejumlah beban yang sebelumnya cukup besar. Salah satunya terlihat pada beban pokok pendapatan yang berhasil ditekan secara signifikan.
Pada tahun 2025, beban pokok pendapatan tercatat sebesar Rp284,4 miliar. Angka ini lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp326,99 miliar. Penurunan beban tersebut menjadi salah satu faktor yang membantu perusahaan menjaga stabilitas kinerja meskipun pendapatan mengalami koreksi.
Namun demikian, penurunan pendapatan tetap berdampak pada laba kotor perusahaan. Laba kotor TEBE tercatat sebesar Rp198,78 miliar, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp239,68 miliar.
Selain itu, perusahaan juga melakukan penghematan pada beban umum dan administrasi. Pos biaya ini mengalami penurunan cukup signifikan menjadi Rp45,08 miliar dari sebelumnya Rp81,84 miliar.
Meski telah melakukan efisiensi pada beberapa pos beban, laba usaha perusahaan tetap mengalami sedikit penurunan. Sepanjang tahun laporan, laba usaha tercatat sebesar Rp153,7 miliar, turun dari Rp157,83 miliar pada periode sebelumnya.
Perkembangan Penghasilan Lain dan Beban Pajak
Selain kinerja operasional utama, laporan keuangan perusahaan juga menunjukkan perkembangan pada pos penghasilan lain-lain. Dalam periode laporan terbaru, penghasilan lain-lain bersih tercatat meningkat cukup signifikan.
Penghasilan lain-lain bersih mencapai Rp24,21 miliar, meningkat dibandingkan periode sebelumnya yang berada di angka Rp14,37 miliar. Kenaikan ini memberikan tambahan kontribusi terhadap kinerja laba sebelum pajak perusahaan.
Secara keseluruhan, laba sebelum pajak tercatat sebesar Rp177,92 miliar. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp172,21 miliar.
Namun peningkatan tersebut juga diikuti oleh kenaikan beban pajak. Pada tahun laporan, beban pajak tercatat sebesar Rp44,33 miliar, meningkat dari Rp38,02 miliar pada periode sebelumnya.
Kenaikan beban pajak inilah yang pada akhirnya membuat laba bersih perusahaan mengalami koreksi tipis dibandingkan tahun sebelumnya.
Struktur Keuangan dan Permodalan Perseroan
Selain laporan laba rugi, kondisi keuangan perusahaan juga tercermin dari posisi neraca pada akhir tahun buku. Laporan menunjukkan bahwa total aset perusahaan mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.
Total aset perseroan tercatat sebesar Rp1,28 triliun, meningkat dari Rp1,16 triliun pada periode sebelumnya. Kenaikan ini menunjukkan adanya pertumbuhan pada sumber daya ekonomi yang dimiliki perusahaan.
Di sisi lain, jumlah liabilitas perusahaan justru mengalami penurunan. Liabilitas tercatat sebesar Rp63,74 miliar, lebih rendah dibandingkan posisi sebelumnya yang mencapai Rp69,63 miliar.
Sementara itu, nilai ekuitas perusahaan mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Ekuitas tercatat sebesar Rp1,22 triliun, naik dari Rp1,09 triliun pada periode sebelumnya.
Secara keseluruhan, laporan keuangan PT Dana Brata Luhur Tbk menunjukkan kondisi yang relatif stabil. Walaupun laba bersih mengalami penurunan tipis dan pendapatan usaha menyusut, struktur permodalan perusahaan justru memperlihatkan penguatan.
Kenaikan aset serta ekuitas, disertai dengan penurunan liabilitas, mencerminkan kondisi fundamental perusahaan yang tetap solid di tengah dinamika kinerja operasional sepanjang tahun 2025.