JAKARTA - Ramadan selalu menghadirkan berbagai momentum penting bagi umat Islam, salah satunya adalah peringatan Nuzulul Quran. Momen ini sering dibicarakan setiap memasuki pertengahan bulan Ramadan, terutama ketika tanggal 17 Ramadan tiba.
Banyak umat Muslim kemudian bertanya kembali tentang makna peristiwa tersebut, tidak hanya sebagai tradisi peringatan, tetapi juga sebagai bagian dari sejarah besar dalam perjalanan Islam.
Peristiwa Nuzulul Quran memiliki kedudukan sangat penting dalam ajaran Islam karena menjadi awal dari turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad SAW.
Dari peristiwa inilah risalah Islam mulai disampaikan kepada umat manusia. Al-Qur’an kemudian menjadi pedoman hidup yang membimbing manusia menuju kehidupan yang lebih baik.
Lebih dari sekadar peristiwa sejarah, Nuzulul Quran juga memiliki makna spiritual yang sangat dalam. Ia berkaitan erat dengan malam Lailatul Qadar, bulan Ramadan, serta proses pewahyuan yang berlangsung secara bertahap selama lebih dari dua dekade. Karena itu, memahami Nuzulul Quran menjadi penting bagi umat Islam agar dapat mengambil hikmah dari turunnya wahyu sebagai petunjuk hidup.
Pengertian Nuzulul Quran Dalam Kajian Islam
Apa itu Nuzulul Quran sering menjadi pertanyaan yang muncul setiap bulan Ramadhan, khususnya saat memasuki tanggal 17 Ramadhan. Momen ini bukan sekadar peringatan tahunan, tetapi peristiwa monumental yang menandai turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW. Dari sinilah risalah Islam dimulai dan peradaban manusia mengalami perubahan besar.
Secara etimologis, kata “nuzul” berasal dari bahasa Arab nazala yang berarti “turun”. Sedangkan Al-Qur’an berasal dari kata qara’a yang berarti “bacaan”. Maka, Nuzulul Quran berarti turunnya wahyu Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW.
Dalam kajian Ulumul Qur’an, sebagaimana dijelaskan oleh Jalaluddin As-Suyuthi dalam kitab Al-Itqan fi Ulumil Qur’an, Nuzulul Quran adalah peristiwa turunnya wahyu dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad melalui perantara Malaikat Jibril, baik secara sekaligus maupun bertahap (munajjaman).
Peristiwa ini diawali dengan turunnya lima ayat pertama Surah Al-‘Alaq (96):1–5 di Gua Hira. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari disebutkan bahwa Malaikat Jibril mendatangi Nabi dan berkata, “Iqra’ (Bacalah).” Nabi menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Peristiwa inilah yang menandai awal kenabian beliau.
Menurut pandangan Muhammad Husain Haikal, momen tersebut merupakan titik balik sejarah umat manusia, karena sejak saat itu wahyu menjadi pedoman hidup yang membebaskan manusia dari kegelapan jahiliah menuju cahaya tauhid.
Dalil Al-Qur’an Tentang Turunnya Wahyu
Al-Qur’an sendiri menjelaskan tentang turunnya wahyu dalam beberapa ayat. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Qadr ayat 1:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam kemuliaan.”
Dalam QS. Ad-Dukhan ayat 3 juga disebutkan:
“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi.”
Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada malam istimewa di bulan Ramadhan, yang dikenal sebagai Lailatul Qadar.
Sementara itu, QS. Al-Isra ayat 106 menegaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur:
“Dan Al-Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar engkau membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.”
Ayat ini memperjelas bahwa proses pewahyuan memiliki hikmah tersendiri. Turunnya wahyu secara bertahap memberikan kesempatan bagi umat Islam pada masa itu untuk memahami ajaran secara perlahan dan mendalam.
Proses Turunnya Al-Qur’an Menurut Ulama
Para ulama menjelaskan bahwa Nuzulul Quran terjadi dalam dua tahap.
Tahap pertama adalah turunnya Al-Qur’an secara sekaligus atau yang dikenal dengan istilah Nuzul Jumlatan Wahidah. Berdasarkan tafsir Ibnu Abbas yang dikutip dalam berbagai kitab Ulumul Qur’an, Al-Qur’an pertama kali diturunkan secara keseluruhan dari Lauhul Mahfuz ke Baitul ‘Izzah di langit dunia pada malam Lailatul Qadar.
Pendapat ini juga dijelaskan dalam kitab Al-Burhan fi Ulumil Qur’an karya Az-Zarkasyi.
Tahap kedua adalah turunnya Al-Qur’an secara bertahap atau Nuzul Munajjaman. Setelah diturunkan ke langit dunia, wahyu kemudian disampaikan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril selama kurang lebih 23 tahun.
Proses ini menyesuaikan kondisi sosial, budaya, serta kebutuhan umat pada masa tersebut. Dalam kajian Ulumul Qur’an dijelaskan bahwa metode bertahap ini memiliki berbagai hikmah penting, seperti memudahkan umat Islam menghafal ayat-ayat Al-Qur’an, memberikan jawaban atas persoalan yang dihadapi masyarakat, serta menguatkan hati Rasulullah dalam menjalankan dakwah.
Makna Peringatan Nuzulul Quran Di Bulan Ramadhan
Di Indonesia, Nuzulul Quran diperingati setiap tanggal 17 Ramadhan. Penetapan ini merujuk pada penafsiran terhadap QS. Al-Anfal ayat 41 yang menyebut istilah “Yaumul Furqan” atau hari pembeda antara kebenaran dan kebatilan.
Ayat tersebut sering dikaitkan dengan peristiwa Perang Badar yang terjadi pada 17 Ramadhan tahun kedua Hijriah. Sebagian ulama kemudian mengaitkan momentum tersebut dengan turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW.
Meskipun terdapat perbedaan pendapat mengenai tanggal pasti turunnya wahyu pertama, mayoritas ulama sepakat bahwa Al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadhan. Karena itu, peringatan Nuzulul Quran setiap tahun dimaksudkan sebagai bentuk penghormatan terhadap turunnya kitab suci yang menjadi pedoman hidup umat Islam.
Momentum ini juga menjadi pengingat bagi umat Muslim untuk semakin mendekatkan diri dengan Al-Qur’an, baik dengan membaca, memahami, maupun mengamalkan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui pemahaman yang lebih mendalam mengenai Nuzulul Quran, umat Islam diharapkan tidak hanya menjadikannya sebagai peringatan seremonial semata, tetapi juga sebagai kesempatan untuk memperkuat hubungan dengan kitab suci yang menjadi sumber petunjuk dan cahaya kehidupan.