Genjot Ekspor, Kemenperin Bidik Komposisi Industri 70:30

Genjot Ekspor, Kemenperin Bidik Komposisi Industri 70:30
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita.

JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus berupaya menggenjot porsi pasar ekspor industri manufaktur agar meningkat dari 20 persen menjadi 30 persen, sembari tetap menjaga kemampuan dalam memenuhi kebutuhan nasional.

Dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Selasa, Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita memaparkan bahwa saat ini komposisi penjualan produk manufaktur masih sangat bergantung pada pasar domestik, yakni sekitar 80 persen untuk kebutuhan dalam negeri dan 20 persen untuk ekspor. 

Ke depan, pihaknya menargetkan pergeseran komposisi menjadi 70 persen untuk pasar domestik dan 30 persen untuk pasar ekspor.

"Pasar domestik tetap menjadi kekuatan utama industri nasional. Namun ke depan, kami perlu memperkuat industri yang berorientasi ekspor agar penetrasi produk manufaktur Indonesia di pasar global semakin besar. Targetnya, komposisi yang saat ini sekitar 20 persen ekspor dan 80 persen domestik dapat meningkat menjadi 30 persen ekspor dan 70 persen domestik, tanpa mengurangi kemampuan industri memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri," tegasnya.

Menurut Agus, penguatan industri manufaktur yang berorientasi ekspor merupakan langkah strategis untuk meningkatkan ketahanan sektor industri serta memperluas jangkauan produk Indonesia di kancah internasional.

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,61 persen. 

Pada periode yang sama, sektor industri pengolahan mampu tumbuh 5,04 persen dan menjadi kontributor terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional dengan angka 19,07 persen atau mencapai Rp1.179,62 triliun. 

Dari sisi investasi, industri pengolahan menyumbang Rp182,04 triliun atau setara dengan 36,49 persen dari total investasi nasional. Sementara itu, nilai ekspor produk industri pengolahan sepanjang Januari-April 2026 menembus 75,57 miliar dolar AS, berkontribusi 82,01 persen terhadap total ekspor nasional.

Agus menegaskan bahwa akselerasi ekspor manufaktur harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga pasar domestik yang selama ini menjadi fondasi pertumbuhan industri nasional. 

Untuk itu, Kemenperin terus memperkuat daya saing industri melalui pemberian insentif fiskal maupun nonfiskal, pengendalian impor yang terukur, serta memperkuat instrumen perlindungan industri dalam negeri.

Selain itu, Kemenperin juga aktif mendorong implementasi skema Local Currency Settlement (LCS) sebagai instrumen penguat ketahanan industri nasional di tengah fluktuasi nilai tukar.

"Pemanfaatan Local Currency Settlement sebenarnya telah kami rekomendasikan sejak tahun 2023. Jauh sebelum terjadi tekanan pelemahan nilai tukar rupiah seperti yang kami hadapi saat ini. Perluasan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan internasional menjadi instrumen penting untuk mengurangi risiko nilai tukar sekaligus meningkatkan efisiensi transaksi bagi pelaku industri nasional," ujar Menperin.

Menperin optimistis target kinerja program dan anggaran Kemenperin pada tahun 2026 akan tercapai melalui pelaksanaan berbagai program prioritas, seperti hilirisasi industri, penguatan industri kecil menengah (IKM), pengembangan SDM industri, transformasi industri hijau, serta peningkatan produktivitas berbasis inovasi dan teknologi.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index