Lapar Usai Makan Kenyang? Bisa Jadi Tanda Masalah Kesehatan

Lapar Usai Makan Kenyang? Bisa Jadi Tanda Masalah Kesehatan
Ilustrasi - Seseorang yang sesang makan tanpa nasi putih. (Foto: NET)

JAKARTA – Munculnya rasa lapar sesaat setelah menyantap hidangan mengenyangkan tidak selalu disebabkan oleh stres atau kurangnya kendali diri, melainkan bisa dipicu oleh perubahan kadar gula darah.

Konsultan endokrinologi dan diabetologi di Apollo Hospitals, Bannerghatta Road, Bengaluru, Dr. Varun Suryadevara, mengungkapkan bahwa sensasi lapar tersebut berkaitan dengan fluktuasi kadar gula darah. 

Fenomena ini berakar pada cara tubuh memproses glukosa pascamakan. Sebuah reaksi berantai terjadi saat seseorang mengonsumsi makanan yang kaya karbohidrat sederhana atau olahan.

“Ketika Anda mengonsumsi makanan dengan nasi putih, roti berbahan tepung terigu olahan (maida), atau makanan manis, tubuh Anda dengan cepat mencernanya menjadi glukosa karena karbohidrat sederhana atau olahan yang ada di dalamnya,” kata dokter Varun, Minggu (14/6/2026).

Akibatnya, lanjut Varun, kadar gula darah meningkat tajam dengan cepat. Sebagai tanggapan, pankreas memproduksi insulin dalam jumlah besar untuk memindahkan glukosa dari darah menuju sel. Proses ini sebenarnya wajar. 

Namun, masalah timbul ketika makanan yang dikonsumsi mengandung karbohidrat olahan terlalu tinggi, sehingga pankreas melepaskan insulin secara berlebihan. 

Jika kadar insulin terlalu tinggi, gula darah bisa anjlok drastis karena glukosa terserap terlalu cepat dari aliran darah. Saat kondisi ini terjadi, tubuh mencari energi secara instan, memicu rasa lapar meski baru saja makan.

Jika kondisi lapar ini terjadi hampir setiap kali selesai makan, hal itu bisa berkaitan dengan resistensi insulin. Dokter Varun menjelaskan bahwa saat tubuh kurang responsif terhadap insulin, glukosa sulit masuk ke sel dan tertahan di aliran darah. 

Akibatnya, sel tubuh kekurangan energi meskipun kadar gula darah sebenarnya tinggi. Situasi ini mendorong tubuh terus mengirimkan sinyal lapar, menciptakan siklus keinginan makan yang konstan.

Dengan mengubah pola makan secara sederhana, siklus lapar berulang ini dapat dikendalikan. Dokter Varun membagikan beberapa langkah pencegahan, seperti mengonsumsi karbohidrat yang dikombinasikan dengan sayuran kaya serat. 

Selain itu, karbohidrat sebaiknya dipadukan dengan protein rendah lemak, seperti telur, kecambah, atau paneer, serta lemak sehat seperti kacang-kacangan dan biji-bijian.

“Kombinasi ini membantu memperlambat proses pencernaan dan pelepasan glukosa sehingga lonjakan maupun penurunan gula darah dapat diminimalkan,” tutur dia.

Langkah lainnya adalah memulai makan dengan sayuran dan sumber protein terlebih dahulu, sementara karbohidrat dikonsumsi terakhir. Cara ini efektif membantu mengurangi lonjakan gula darah dan menjaga kadarnya tetap stabil.

Selain itu, pastikan tubuh terhidrasi dengan baik, karena dehidrasi ringan kerap disalahartikan sebagai rasa lapar. Saat muncul keinginan makan kembali setelah makan, cobalah minum segelas air terlebih dahulu untuk memastikan apakah tubuh sebenarnya hanya membutuhkan cairan.

Jika rasa lapar tetap muncul meskipun sudah makan dalam porsi besar, kondisi ini bisa mengarah pada polifagia (rasa lapar berlebihan) dan sebaiknya dikonsultasikan kepada tenaga kesehatan. 

Pemeriksaan medis dapat membantu memastikan apakah fluktuasi gula darah atau resistensi insulin menjadi penyebabnya.

“Perlu lebih waspada jika rasa lapar tersebut disertai gejala seperti mudah lelah, berat badan naik atau turun secara tiba-tiba, sering buang air kecil,” imbuh dia.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index