Strategi Campina Hadapi Daya Beli Lemah dan Pelemahan Rupiah

Strategi Campina Hadapi Daya Beli Lemah dan Pelemahan Rupiah
PT Campina Ice Cream Industry Tbk (CAMP). (Foto: NET)

JAKARTA - PT Campina Ice Cream Industry Tbk (CAMP) tetap mempertahankan sikap waspada dalam memproyeksikan prospek usaha pada kuartal II-2026 maupun sepanjang tahun berjalan. 

Adji Andjono selaku Direktur Penjualan dan Pemasaran CAMP menuturkan bahwa pihak perusahaan belum dapat memetakan tren penjualan secara definitif hingga akhir tahun 2026, mengingat kondisi ekonomi saat ini masih berdampak pada daya beli masyarakat.

Oleh sebab itu, produsen es krim ini lebih memilih untuk memantau dinamika pasar sebelum melakukan penyesuaian terhadap target kinerja tahun 2026. 

“Jadi kami lihat dulu saja apa yang terjadi ke depan. Sehingga trend yang lebih pasti untuk jangka panjang saat ini belum bisa dirumuskan,” ujar Adji, Selasa (16/6/2026).

Ia menjelaskan bahwa CAMP menghadapi berbagai tantangan operasional tahun ini. Selain pemulihan daya beli yang belum optimal, perusahaan juga menghadapi tekanan persaingan industri serta kenaikan harga bahan baku. 

Tekanan biaya tersebut utamanya berasal dari bahan baku impor, yakni susu yang menjadi komponen utama produksi es krim. Kondisi ini membuat pelemahan nilai tukar rupiah berisiko menaikkan biaya produksi.

Untuk menjaga margin keuntungan, CAMP menerapkan strategi pengadaan bahan baku yang lebih efisien serta mengoptimalkan distribusi produk. 

“Karena sebagian besar bahan baku terutama susu yang harus impor maka hal ini mempengaruhi naiknya biaya. Jika kami melihat kinerja kurtal I- 2026 maka CAMP cukup berhasil mengendalikan COGS sehingga tidak naik dengan signifikan,” terangnya.

Di tengah situasi ekonomi yang belum stabil, CAMP belum berencana melakukan ekspansi secara agresif. Manajemen lebih memilih untuk memperkuat fondasi bisnis lewat langkah konsolidasi, meski tetap menghadirkan inovasi produk baru demi menjaga minat konsumen.

Sejalan dengan pendekatan konservatif tersebut, CAMP belum menentukan target pertumbuhan penjualan maupun laba bersih tahun ini. 

Target akan disesuaikan dengan perkembangan ekonomi dan kondisi pasar ke depan. Hal serupa berlaku bagi rencana belanja modal (capital expenditure). Adji menambahkan bahwa alokasi capex akan disesuaikan dengan perkembangan penjualan.

“Yang jelas CAMP tetap pengganti setiap tahun freezer-freezer yang sudah habis masa teknisnya. Agar jumlah titik penjualan CAMP tetap sama atau bahkan bertambah dalam melayani para konsumen,” sebutnya.

Pada kuartal I-2026, CAMP mencatatkan penjualan sebesar Rp 275,30 miliar, meningkat tipis dibandingkan periode serupa tahun sebelumnya yang mencapai Rp 274,89 miliar. 

Sementara itu, laba tahun berjalan tumbuh menjadi Rp 5,77 miliar dari Rp 4,38 miliar pada kuartal I-2025. Peningkatan laba di periode tersebut didukung oleh berbagai upaya efisiensi yang dijalankan perusahaan tanpa mengorbankan esensi kualitas produk.

“Kami juga menggunakan biaya promosi penjualan secara lebih berhati-hati sehingga beban penjualan bisa lebih kecil dari periode yang sama di tahun 2025. Hal ini mampu memberikan peningkatan laba penjualan di tengah situasi ekonomi yang stagnan,” tegasnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index