JAKARTA – Sudah membatasi asupan berlemak dan menjalani pola hidup lebih sehat, namun kadar kolesterol tetap tinggi? Ternyata, kondisi ini tidak melulu disebabkan oleh pola makan.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr. Christy Efiyanti, SpPD, mengingatkan bahwa ada sejumlah penyakit yang mampu memengaruhi kadar kolesterol dalam darah.
Masyarakat perlu memahami bahwa lonjakan kolesterol sering kali dipengaruhi oleh banyak faktor, bukan sekadar kebiasaan makan harian.
Dalam siaran pers IPB University, Christy menjelaskan bahwa kondisi medis tertentu dapat berkontribusi terhadap kenaikan kadar kolesterol dan memerlukan perhatian khusus.
Selama ini, kolesterol tinggi kerap dikaitkan dengan konsumsi makanan berlemak, padahal terdapat berbagai faktor lain yang memengaruhinya, mulai dari aktivitas fisik, berat badan, kebiasaan merokok, hingga konsumsi alkohol. Namun, terdapat faktor lain yang sering terlewatkan, yakni penyakit tertentu yang memengaruhi metabolisme tubuh.
"Kadar kolesterol seseorang dipengaruhi oleh banyak faktor yang lebih kompleks," ujar dr. Christy.
Berikut adalah empat penyakit yang dapat berkaitan dengan tingginya kadar kolesterol:
Diabetes Diabetes termasuk kondisi medis yang dapat berkontribusi terhadap peningkatan kolesterol dalam darah. Oleh karena itu, penderita diabetes perlu memantau kadar kolesterol secara rutin sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan secara menyeluruh.
Gangguan ginjal Fungsi ginjal yang terganggu dapat memengaruhi keseimbangan berbagai zat dalam tubuh, termasuk proses metabolisme yang berkaitan dengan kolesterol. Maka dari itu, pemeriksaan kesehatan secara berkala penting untuk mendeteksi gangguan ginjal sejak dini.
Penyakit hati Hati atau liver berperan besar dalam mengatur produksi serta pengolahan kolesterol. Seseorang yang mengalami masalah pada organ hati sebaiknya tidak hanya fokus pada gejala penyakitnya, tetapi juga memperhatikan kondisi metabolisme tubuh secara keseluruhan.
Gangguan tiroid Tiroid berfungsi mengatur berbagai proses metabolisme tubuh. Ketika terjadi gangguan pada kelenjar ini, kadar kolesterol dapat ikut berubah dan cenderung meningkat. Hal ini membuktikan bahwa kolesterol tinggi tidak selalu berkaitan langsung dengan makanan harian.
Di samping penyakit tertentu, Christy menyebutkan bahwa faktor keturunan juga perlu diwaspadai. Salah satu contohnya adalah familial hypercholesterolemia, yaitu kelainan genetik yang menyebabkan kadar kolesterol tinggi sejak usia muda.
Pada kondisi ini, seseorang bisa memiliki kolesterol tinggi meskipun telah berupaya menjalani pola hidup sehat. Oleh sebab itu, riwayat kesehatan keluarga patut diperhatikan saat mengevaluasi penyebab tingginya kolesterol.
Untuk menjaga kadar kolesterol tetap normal, Christy menyarankan masyarakat menerapkan pola hidup sehat, seperti membatasi makanan tinggi lemak dan lemak jenuh, rutin berolahraga, serta menjaga berat badan ideal. Namun, ia menekankan bahwa upaya tersebut wajib dibarengi dengan pemeriksaan kesehatan berkala.
"Rutin melakukan medical check up agar dapat mendeteksi dini bila ada masalah kesehatan dan memperoleh penanganan sejak dini sebelum terlambat dan sulit diobati," kata dr. Christy.
Menurutnya, pemeriksaan rutin dapat membantu menemukan penyebab kolesterol tinggi yang mungkin tidak terlihat dari gejala sehari-hari, termasuk penyakit penyerta yang memerlukan penanganan khusus.