Kupon Obligasi Semester I-2026 Turun, Pefindo Minta Tetap Cermat

Kupon Obligasi Semester I-2026 Turun, Pefindo Minta Tetap Cermat
PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo). (Foto: NET)

JAKARTA - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mengungkapkan bahwa rata-rata kupon penerbitan obligasi pada Semester I-2026 mengalami penurunan jika disandingkan dengan periode yang sama pada Semester I-2025, khususnya untuk kelompok peringkat AA dan AAA pada tenor 1, 3, dan 5 tahun.

Terkait tenor 1 tahun, Fixed Income Analyst Pefindo Ahmad Nasrudin memaparkan kupon AA merosot dari 6,66% menjadi 4,82% pada Semester I-2026, sementara AAA menyusut dari 6,50% menjadi 4,88% pada Semester I-2026.

"Untuk tenor 3 tahun, kupon AA turun dari 7,26% menjadi 5,82% pada Semester I-2026, dan AAA turun dari 6,92% menjadi 5,69% pada Semester I-2026," ujarnya, Senin (6/7/2026).

Ahmad menuturkan kemerosotan ini pun terlihat pada tenor 5 tahun. Ia menyatakan kupon AA terpangkas dari 9,00% pada Semester I-2025 ke angka 6,05% pada Semester I-2026, sedangkan AAA melandai dari 7,08% ke posisi 5,95% pada Semester I-2026.

Merujuk pada data Semester I-2026, Ahmad menjelaskan bahwa pergerakan kupon penerbitan memang belum memperlihatkan adanya peningkatan dari tahun lalu. 

Kendati demikian, ia mengingatkan agar angka tersebut dicermati secara saksama karena rata-rata kupon sangat bergantung pada komposisi issuer, rating, tenor, serta momentum penerbitannya.

Di samping itu, Ahmad menyampaikan bahwa peningkatan suku bunga acuan atau yield benchmark baru berjalan pada kuartal II-2026, sehingga fluktuasi kenaikan tersebut boleh jadi belum terekam sepenuhnya sewaktu dirata-ratakan dalam satu semester. 

Kondisi ini juga dipengaruhi oleh situasi awal tahun 2026 ketika rata-rata kupon masih bertengger di posisi rendah.

"Di sisi lain, pada Semester 1-2025, suku bunga acuan masih berada di kisaran yang lebih tinggi sebelum akhirnya menurun secara bertahap pada kuartal II-2025 dan berlanjut hingga kuartal III-2025," katanya.

Melihat proyeksi ke depan, Ahmad memperkirakan arah kupon memiliki peluang untuk merangkak naik atau setidaknya akan lebih sulit untuk bergerak turun. Ia menguraikan bahwa naiknya BI Rate ke level 5,75% turut mendongkrak acuan imbal hasil pada pasar uang dan surat utang. 

Kondisi tersebut memicu para pemodal untuk membandingkan kupon obligasi korporasi dengan opsi instrumen lain yang memiliki durasi lebih pendek serta lebih likuid.

"Jika selisih imbal hasil tidak cukup menarik, issuer perlu menawarkan kupon lebih tinggi agar penerbitannya terserap," ucapnya.

Oleh sebab itu, Ahmad menegaskan perlunya memisahkan antara data historis dengan proyeksi masa depan. Ia menjabarkan bahwa data sepanjang Semester I-2026 memang memperlihatkan rata-rata kupon yang lebih rendah ketimbang situasi pada Semester I-2025, terutama bagi issuer dengan peringkat AA dan AAA.

Walau demikian, Ahmad menggarisbawahi bahwa peluang bagi kupon untuk merangkak naik pada Semester II-2026 kini menjadi semakin terbuka lebar lantaran BI Rate telah dikerek naik, ditambah lagi kebutuhan refinancing multifinance yang masih tinggi, serta kecenderungan investor yang akan lebih selektif dalam memilih tenor maupun kualitas kredit.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index