JAKARTA - Bank Indonesia (BI) membukukan aliran modal asing (capital inflow) yang masuk ke pasar keuangan dalam negeri menyentuh angka US$ 7,98 miliar selama kuartal II-2026. Kondisi ini berbalik arah dari kuartal sebelumnya yang justru mengalami aliran modal keluar (outflow) senilai US$ 1,47 miliar.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memaparkan, masuknya dana asing tersebut utamanya didorong oleh penempatan dana pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang mencapai US$ 8,48 miliar serta Surat Berharga Negara (SBN) sebesar US$ 1,78 miliar.
Di sisi lain, pasar saham dalam negeri justru masih mengalami arus modal keluar senilai US$ 2,3 miliar.
"Tapi di triwulan II ini sudah kembali inflow US$ 7,98 miliar, SRBI inflow US$ 8,48 miliar, SBN inflow US$ 1,78 miliar dan sahamnya masih outflow US$ 2,3 miliar," papar Perry saat menghadiri rapat kerja dengan Badan Anggaran (Banggar) DPR RI pada Selasa (7/7/2026).
Perry menilai, kembalinya aliran dana ekspatriat ini sukses mempertahankan ketahanan nilai tukar rupiah, memperkokoh stabilitas sistem keuangan, serta turut menyokong pembiayaan fiskal negara.
Demi memastikan arus modal dari luar negeri tersebut tetap mengalir masuk, BI memandang tingkat pengembalian (yield) Surat Berharga Negara (SBN) harus tetap berdaya saing. Dampaknya, tingkat suku bunga SBN perlu dinaikkan, yang berkonsekuensi pada membengkaknya beban bunga yang harus ditanggung pemerintah.
Sebagai langkah timbal balik, BI bakal mengerek nilai remunerasi atau bunga atas saldo rekening milik pemerintah yang disimpan di bank sentral.
"Yang selama ini kami kasih remunerasi 80% dari BI Rate akan kami tingkatkan menjadi BI Rate plus sekian untuk mengompensasi berapa kenaikan beban bunga karena suku bunga SBN harus naik," jelas Perry.
Ia memastikan bahwa mekanisme ini menjadi solusi yang saling menguntungkan (win-win solution). Sebab, di satu pihak Indonesia tetap bisa memikat arus modal asing dan mempertahankan stabilitas mata uang rupiah, sedangkan di pihak lain, pembengkakan beban bunga pemerintah akan disubstitusi lewat kenaikan remunerasi oleh BI.
"Inflow-nya masih masuk, rupiahnya stabil, beban bunganya akan kami kembalikan sehingga tidak lagi jadi break event point bagi pemerintah," pungkas Perry.