JAKARTA - Di balik romansa yang tampak lembut, serial Netflix Can This Love Be Translated? menyimpan proses kreatif yang panjang dan menuntut. Salah satu elemen terpenting dalam serial ini justru terletak pada kerja sunyi aktor utamanya, Kim Seon-ho, yang harus menaklukkan beragam bahasa demi membangun karakter secara utuh.
Bukan sekadar menghafal dialog, Seon-ho menjalani perjalanan panjang untuk memahami bagaimana bahasa membentuk emosi dan hubungan antarmanusia.
Dalam serial tersebut, Kim Seon-ho memerankan Ju Ho-jin, seorang penerjemah profesional multibahasa yang justru kesulitan menerjemahkan perasaannya sendiri.
Karakter ini menjadi pusat cerita yang menyoroti ironi komunikasi, di mana kemampuan linguistik tinggi tidak selalu sejalan dengan kecakapan emosional. Untuk mencapai kedalaman peran itu, Seon-ho menjalani persiapan intens selama empat bulan penuh.
Proses Mendalami Karakter Lewat Bahasa
Persiapan Kim Seon-ho tidak dilakukan secara setengah-setengah. Ia mengungkapkan bahwa bahasa menjadi fondasi utama dalam membentuk karakter Ju Ho-jin.
Demi memastikan akurasi dan nuansa yang tepat, Seon-ho dibimbing langsung oleh beberapa guru bahasa yang berbeda, sesuai dengan kebutuhan adegan dalam drama tersebut.
“Saya mempersiapkan peran ini selama empat bulan dan belajar dengan beberapa guru bahasa. Kalau tidak melakukan itu, mungkin saya sudah menyerah di beberapa adegan,” ujar Seon-ho.
Menurutnya, setiap bahasa membawa beban emosi dan logika yang berbeda. Karena itu, ia harus menyesuaikan intonasi, ritme, serta ekspresi agar tidak sekadar terdengar benar, tetapi juga terasa alami dan meyakinkan bagi penonton.
Tantangan Multibahasa di Lokasi Syuting
Dari berbagai bahasa yang digunakan, Seon-ho menyebut bahasa Jepang sebagai tantangan terbesar. Porsinya yang cukup dominan menuntut ketelitian tinggi, terutama dalam pelafalan dan struktur kalimat. Kesalahan kecil dapat mengubah makna secara signifikan, sehingga ia harus ekstra fokus dalam setiap pengambilan gambar.
Selain Jepang, bahasa Italia juga memberikan kesulitan tersendiri. Perbedaan karakter bunyi dan ekspresi membuatnya harus beradaptasi cepat di tengah jadwal syuting yang padat. Bahkan, Seon-ho mengaku sempat mengalami kebingungan bahasa saat kembali menggunakan bahasa Korea setelah berpindah-pindah bahasa di lokasi.
Situasi ini menjadi tantangan unik, namun sekaligus memperkaya pemahamannya terhadap karakter Ju Ho-jin. Ketidakstabilan linguistik yang ia rasakan justru membantu menggambarkan kondisi batin tokoh yang kerap terjebak dalam kebingungan emosional.
Bahasa Emosi dan Ekspresi Non Verbal
Meski dialog multibahasa menjadi sorotan, Seon-ho menegaskan bahwa inti perannya justru terletak pada bahasa non-verbal. Bersama sutradara Yoo Young-eun, ia mendiskusikan cara menyampaikan emosi Ju Ho-jin melalui tatapan mata, jeda bicara, hingga gerak tubuh yang halus.
“Saya berusaha menerjemahkan perasaan itu sedekat mungkin, tapi bagaimana penonton memaknainya saya serahkan sepenuhnya kepada mereka,” katanya.
Pendekatan ini membuat karakter Ju Ho-jin terasa lebih manusiawi. Penonton diajak membaca emosi yang tidak selalu diucapkan, melainkan tersirat di balik diam dan keraguan. Hal tersebut menjadi kekuatan utama serial ini dalam menyampaikan konflik batin para tokohnya.
Perspektif Pemeran dan Sutradara
Aktris Goo Youn-jung turut menyoroti kompleksitas bahasa emosi melalui karakter Cha Moo-hee. Ia menggambarkan Moo-hee sebagai sosok yang tampak ekspresif di permukaan, namun justru menyimpan perasaan paling dalamnya. Menurutnya, karakter ini sering menggunakan kalimat berputar dan bahasa ambigu sebagai bentuk perlindungan diri.
“Dia banyak berbicara, tapi ketika menyangkut perasaan yang paling penting, justru tidak diucapkan secara langsung. Itu caranya melindungi diri agar tidak terluka,” ujar Youn-jung.
Sementara itu, Sutradara Yoo Young-eun menjelaskan bahwa Can This Love Be Translated? sejak awal dirancang sebagai kisah tentang kesalahpahaman emosional. Ia menekankan bahwa perbedaan bahasa dan cara menyampaikan perasaan kerap menjadi sumber jarak dalam hubungan manusia.
“Kita semua menggunakan bahasa yang berbeda. Kadang cinta itu ada, tapi karena bahasa dan cara menyampaikannya berbeda, justru muncul kekecewaan. Serial ini ingin menunjukkan bahwa saling memahami adalah kuncinya,” ujarnya.
Didukung lokasi syuting lintas negara seperti Korea Selatan, Jepang, dan Italia, serial ini tidak hanya menampilkan keindahan visual, tetapi juga perjalanan emosional para karakter. Setiap tempat diperlakukan sebagai bagian dari narasi, memperkuat tema besar tentang bahasa, cinta, dan upaya untuk saling memahami.