JAKARTA - Bagi sebagian orang, kucing hanyalah hewan peliharaan yang lucu dan menggemaskan. Namun, bagi banyak pemiliknya, kehadiran kucing di rumah sering kali memberikan rasa nyaman, tenang, dan bahagia yang sulit dijelaskan.
Hubungan emosional ini ternyata tidak hanya bersifat subjektif, melainkan juga telah menjadi perhatian para peneliti di bidang kesehatan. Berbagai penelitian ilmiah menunjukkan bahwa interaksi manusia dengan kucing dapat memengaruhi kondisi fisik dan psikologis secara nyata.
Mulai dari perubahan tekanan darah, respons hormon dalam tubuh, hingga pengaruh terhadap kesehatan mental, semua dapat dipicu melalui aktivitas sederhana seperti membelai, bermain, atau sekadar menemani kucing beristirahat.
Tak hanya orang dewasa, anak-anak pun disebut dapat merasakan manfaat dari kedekatan dengan hewan peliharaan. Bahkan, paparan sejak usia dini diyakini berperan dalam pembentukan sistem kekebalan tubuh.
Berangkat dari temuan tersebut, memelihara kucing kini dipandang bukan sekadar hobi, melainkan bagian dari gaya hidup sehat yang didukung bukti ilmiah.
Dampak fisik kucing terhadap kesehatan tubuh
Manfaat memelihara kucing bagi kesehatan fisik telah menjadi fokus sejumlah penelitian. Salah satu dampak yang paling sering dibahas adalah pengaruhnya terhadap tekanan darah dan kondisi jantung pemiliknya. Interaksi rutin dengan kucing dinilai mampu menciptakan efek menenangkan yang berkontribusi pada kestabilan fungsi tubuh.
1. Menurunkan Tekanan Darah Tinggi
Hasil penelitian di Australia yang melibatkan 5741 subjek menemukan bahwa pemilik hewan peliharaan cenderung memiliki tekanan darah yang lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki hewan peliharaan dengan profil sosioekonomi dan indeks massa tubuh yang sama.
2. Menurunkan Stres
Menyentuh atau memeluk kucing bisa merangsang pelepasan endorfin, hormon alami yang mengurangi sensasi nyeri dan meningkatkan suasana hati. Selain itu, merawat kucing dan bermain dengannya dapat memberikan kesempatan untuk aktivitas fisik, yang dapat meningkatkan tingkat energi dan membantu mengurangi gejala fisik stres.
Selain memengaruhi tekanan darah dan stres, kehadiran kucing juga dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit jantung. Efek relaksasi yang dihasilkan dari interaksi dengan kucing dipercaya berperan dalam menjaga kesehatan sistem kardiovaskular dalam jangka panjang.
3. Menurunkan Risiko Penyakit Jantung
Memelihara kucing juga dapat menurunkan risiko penyakit jantung. Studi yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Universitas Minnesota, Amerika Serikat, menemukan bahwa orang-orang yang tidak memelihara kucing memiliki risiko meninggal dunia terkena penyakit jantung sekitar 30–40 persen dibandingkan orang yang memelihara kucing.
Studi ini melakukan pengamatan selama satu dekade dengan sampel pengamatan sebanyak 4.435 orang.
Manfaat memelihara kucing tidak hanya dirasakan oleh orang dewasa. Anak-anak, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus, juga dapat memperoleh dampak positif dari interaksi dengan hewan peliharaan ini. Kucing dinilai mampu membantu meningkatkan kemampuan sosial dan emosional anak.
4. Membantu Anak Penderita Autisme
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh University of Missouri, Amerika Serikat, menunjukkan interaksi sosial anak penderita autisme mengalami peningkatan signifikan ketika mereka dikelilingi oleh hewan peliharaan.
Hampir setengah dari jumlah keluarga yang diteliti memiliki kucing sebagai hewan peliharaan. Orang tua dalam keluarga-keluarga tersebut melaporkan adanya ikatan emosional yang kuat antara mereka dan anak-anak mereka.
Selain berdampak pada fisik dan perkembangan sosial, kucing juga berkontribusi terhadap kesehatan mental dan daya tahan tubuh. Suara dengkuran, sentuhan lembut, serta rutinitas merawat kucing menjadi faktor yang memengaruhi respons biologis manusia.
5. Menyembuhkan Nyeri Tulang, Sendi, dan Otot
Kucing sering kali mengeluarkan suara seperti mendengkur atau sering disebut purring. Suara dengkuran ini memiliki kemampuan penyembuhan bagi nyeri tulang dan otot manusia. Ini terkait dengan frekuensi getaran dengkuran kucing yang berada pada kisaran 20–140 hz.
6. Membantu Kesehatan Mental
Berinteraksi dengan hewan peliharaan, termasuk kucing, bisa memicu pelepasan hormon oksitosin dalam tubuh manusia. Hormon oksitosin sering disebut sebagai hormon cinta dan koneksi sosial.
Riset mengungkapkan bahwa saat seseorang berinteraksi dengan kucing, terjadi peningkatan kadar oksitosin dalam darah. Ini dapat berkontribusi pada peningkatan perasaan relaksasi dan kebahagiaan.
Penelitian yang dilakukan oleh Allen et al. (2020) menunjukkan bahwa bermain dengan kucing selama sesi terapi dapat mengurangi tingkat kortisol dan hormon stres dalam tubuh manusia. Para partisipan mengalami penurunan signifikan tingkat kecemasan dan merasa lebih rileks.
7. Meningkatkan Sistem Kekebalan Tubuh
Memelihara kucing bisa membantu melindungi anak-anak dari risiko sejumlah penyakit, seperti infeksi, alergi, dan gangguan pernapasan.
Penelitian terhadap anjing dan kucing menunjukkan bahwa anak-anak yang berinteraksi dengan kedua hewan peliharaan ini sejak usia dini memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih kuat, terutama dalam menghadapi gangguan pernapasan.