Menag Nasaruddin Bahas Cabang Al-Azhar Indonesia di Mesir

Senin, 19 Januari 2026 | 09:45:24 WIB
Menag Nasaruddin Bahas Cabang Al-Azhar Indonesia di Mesir

JAKARTA - Langkah diplomasi pendidikan kembali diperkuat pemerintah melalui kunjungan Menteri Agama Nasaruddin Umar ke Mesir. Perjalanan ini tidak sekadar menjadi kunjungan simbolik, melainkan membawa misi besar yang berpotensi mengubah lanskap pendidikan Islam di kawasan Asia Tenggara. 

Di tengah meningkatnya mobilitas mahasiswa internasional dan tantangan regional, Indonesia menawarkan diri sebagai rumah baru bagi pengembangan pendidikan Islam bertaraf global.

Dalam kunjungan tersebut, Nasaruddin membawa dua agenda utama, yakni membahas rencana pembukaan cabang Universitas Al-Azhar di Indonesia serta memenuhi undangan sebagai pembicara kunci dalam seminar internasional tentang ekoteologi di Universitas Al-Azhar, Kairo. 

Kedua agenda ini mencerminkan upaya Indonesia untuk memperluas peran strategisnya dalam pendidikan Islam dan pemikiran keagamaan global.

Rencana Cabang Al-Azhar di Indonesia

Gagasan pembukaan cabang Universitas Al-Azhar di Indonesia dinilai sebagai solusi konkret atas berbagai tantangan yang dihadapi mahasiswa Asia Tenggara. 

Selama ini, mereka harus menempuh perjalanan jauh ke Mesir, menghadapi kendala biaya, adaptasi budaya, hingga dinamika geopolitik kawasan.

"Sudah waktunya Al-Azhar itu dibantu dengan membuka cabang di Indonesia, sehingga anak-anak Asia Tenggara tidak perlu ke Mesir. Cukup ke Indonesia, sementara dosen-dosen Al-Azhar dan fasilitas pembelajarannya disiapkan di sini," ujar Menag.

Menurut Nasaruddin, Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi pusat pendidikan Islam modern, baik dari sisi infrastruktur pendidikan, tradisi keilmuan pesantren, maupun keragaman praktik Islam yang moderat. 

Kehadiran cabang Al-Azhar di Indonesia diharapkan dapat memperluas akses pendidikan berkualitas tanpa mengurangi standar akademik institusi tersebut.

Tantangan Pendidikan dan Beban Mesir

Selain membuka akses bagi mahasiswa, rencana ini juga dipandang sebagai bentuk dukungan terhadap Universitas Al-Azhar yang saat ini menghadapi beban pendidikan yang semakin berat. Nasaruddin menilai Mesir berada dalam kondisi yang tidak mudah karena harus menanggung berbagai tekanan sosial dan ekonomi.

"Mesir sekarang overloaded, selain menanggung pengungsian dalam jumlah besar juga jumlah mahasiswa internasional meningkat, sementara beban ekonominya berat," jelasnya.

Situasi tersebut membuat kebutuhan akan model pendidikan alternatif semakin mendesak. Dengan membuka cabang di Indonesia, Al-Azhar dapat mendistribusikan beban akademik dan administratif secara lebih merata, sekaligus tetap menjaga kualitas pendidikan. 

Skema kerja sama yang akan dibahas mencakup berbagai kemungkinan, mulai dari program dual degree, joint faculty, hingga model pendidikan langsung dengan pengajar dari Universitas Al-Azhar.

Menariknya, gagasan ini tidak hanya datang dari Indonesia. Nasaruddin menyebut bahwa sejumlah negara sahabat seperti Qatar, Abu Dhabi, dan Yordania turut memberikan dukungan terhadap rencana tersebut. Dukungan internasional ini memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra strategis dalam pengembangan pendidikan Islam global.

Diplomasi Ekoteologi di Forum Internasional

Selain agenda pendidikan, kunjungan Menag ke Mesir juga memiliki dimensi diplomasi keagamaan. Nasaruddin mendapat undangan resmi dari Universitas Al-Azhar untuk menjadi pembicara kunci dalam seminar internasional bertema ekoteologi. Kehadiran Indonesia dalam forum tersebut merupakan mandat langsung dari Presiden RI.

"Atas izin Bapak Presiden, ada undangan yang sangat terhormat yang diberikan kepada kita sebagai keynote speech di dalam seminar internasional tentang ekoteologi," ujar Menag.

Dalam forum tersebut, Indonesia akan menyampaikan pandangan keagamaan terkait pelestarian lingkungan hidup. Konsep ekoteologi yang dikembangkan Indonesia menekankan hubungan harmonis antara ajaran agama dan tanggung jawab menjaga alam. Pendekatan ini dinilai relevan di tengah krisis lingkungan global yang semakin mengkhawatirkan.

Nasaruddin menjelaskan bahwa perhatian dunia terhadap konsep ekoteologi Indonesia terus meningkat. Isu ini sebelumnya juga dibahas dalam forum lintas agama di Vatikan dan mendapat respons positif dari para pemimpin keagamaan internasional. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan keagamaan Indonesia memiliki daya tarik dan relevansi di tingkat global.

Memperkuat Posisi Indonesia di Dunia Islam

Melalui kunjungan ini, Menag berharap Indonesia dapat semakin dikenal sebagai pusat studi Islam modern yang inklusif dan berorientasi pada solusi global. Pembukaan cabang Al-Azhar di Indonesia bukan hanya soal pendidikan, tetapi juga bagian dari strategi diplomasi jangka panjang.

Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi penghubung antara tradisi keilmuan Islam klasik dan tantangan dunia modern. Dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan pengalaman panjang dalam mengelola keberagaman, Indonesia menawarkan model Islam yang damai, adaptif, dan relevan dengan perkembangan zaman.

Nasaruddin optimistis, langkah ini akan memperluas jangkauan diplomasi pendidikan dan keagamaan Indonesia di tingkat internasional. Kehadiran Indonesia di forum-forum global, baik dalam isu pendidikan maupun lingkungan, diharapkan mampu memperkuat citra Indonesia sebagai aktor penting dalam dunia Islam dan percaturan global.

Terkini