Kemenhaj Bakal Batasi Keberangkatan Jemaah dengan Penyakit Komorbid

Kamis, 25 Juni 2026 | 18:58:31 WIB
Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak. (Foto: NET)

JAKARTA - Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) akan memperketat proses skrining kesehatan bagi calon jemaah haji, khususnya bagi individu yang memiliki penyakit penyerta (komorbid). Langkah ini merupakan poin krusial dalam evaluasi pelaksanaan ibadah haji tahun 2026.

"Tahun depan ini juga jadi evaluasi kami, kami harus lebih ketat terkait dengan istitaah kesehatan," ujar Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak, usai rapat koordinasi di Gedung Kementerian Haji, Jakarta, Kamis (25/6/2026).

Dahnil memaparkan bahwa jumlah jemaah haji Indonesia yang wafat pada musim haji tahun ini mencapai sekitar 350 jiwa. Angka ini mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun lalu yang menyentuh 467 jiwa. 

Menurut Dahnil, calon jemaah dengan riwayat penyakit penyerta (komorbid), potensi demensia, atau penyakit berisiko tinggi lainnya akan menjalani pemeriksaan yang lebih mendalam, sehingga ada kemungkinan mereka tidak diberangkatkan.

"Jadi mau tidak mau, kami harus lebih tegas terkait dengan jemaah-jemaah yang memiliki komorbid, kemudian misalnya potensi dimensia, kemudian penyakit-penyakit yang berbahaya lainnya untuk tidak bisa berangkat," tegasnya.

Selain memperketat prosedur pemeriksaan medis, Kementerian Haji berencana meluncurkan program manasik kesehatan untuk calon jemaah yang akan berangkat pada 2027. 

Program ini dirancang untuk memastikan kondisi fisik jemaah sudah benar-benar siap selama satu tahun penuh sebelum keberangkatan.

"Manasik kesehatan itu artinya kami ingin memastikan jemaah-jemaah yang sudah ditetapkan akan berangkat di 2027 ini itu mereka sudah persiapan selama 1 tahun yang kami sebut manasik kesehatan," jelas Dahnil.

Persiapan tersebut meliputi pembiasaan olahraga hingga manajemen penyakit penyerta, mengingat sebagian besar rangkaian ibadah haji menuntut fisik yang kuat.

"Misalnya kebiasaan olahraga, jalan kaki, kemudian kalau sanggup lari-lari karena 95 persen kegiatan di tanah suci itu adalah kegiatan fisik," tuturnya.

"Kemudian, kalau mereka punya komorbid, kemudian nanti secara intens dimaintain. Misalnya darah tinggi, diabet, dan sebagainya itu secara intens di maintain oleh tim dokter di daerah masing-masing," pungkas Dahnil.

Terkini