Atasi Obesitas, Kemenkes Dorong Inovasi Obat Pelengkap Terapi

Senin, 06 Juli 2026 | 17:51:31 WIB
Kemenkes Sebut Inovasi Obat Obesitas Perlu untuk Cegah Komplikasi [FOTO: NET].

JAKARTA - Kementerian Kesehatan menyatakan pentingnya inovasi obat-obatan medis guna melengkapi diet mandiri dan operasi bariatrik dalam penanganan obesitas, mengingat kondisi itu menjadi komplikasi yang mematikan.

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengutarakan di Jakarta, Senin, bahwa cara pandang terhadap obesitas mesti selekasnya diubah. 

Kondisi kelebihan berat badan kini bukan lagi sekadar masalah estetika atau penampilan, melainkan penyakit kronis yang menjadi gerbang masuk utama bermacam komplikasi serius, terutama diabetes melitus tipe 2.

"Obesitas harus dikelola melalui tata laksana medis yang tepat. Berdasarkan data Program Cek Kesehatan Gratis, obesitas secara konsisten masuk dalam lima besar masalah kesehatan yang paling banyak ditemukan di Indonesia," kata Dante.

Hasil studi genetik dalam negeri, tuturnya, memperlihatkan bahwa hampir seluruh masyarakat Indonesia mempunyai bakat atau gen diabetes. Namun, aktif atau tidaknya gen itu amat bergantung pada gaya hidup sehari-hari. Risiko penurunan penyakit ini juga kian meningkat akibat faktor keturunan yang kian kuat.

Kondisi tersebut tergambar dari hasil survei kesehatan di Jakarta yang memperlihatkan prevalensi diabetes telah menyentuh 12,8 persen, atau setara dengan satu dari delapan penduduk Jakarta. Ironisnya, dari angka itu, baru sekitar 3 persen yang sudah terdiagnosis. 

Sementara itu, sekitar 9,8 persen lainnya baru menyadari dirinya mengidap diabetes sewaktu mengikuti survei lantaran sebelumnya tidak merasakan gejala apa pun.

"Jika hanya salah satu orang tua yang mengidap diabetes, risiko anak terkena diabetes masih di bawah 10 persen. Namun, jika kedua orang tua menyandang diabetes, risiko anak meningkat drastis menjadi 20 hingga 30 persen pada usia yang jauh lebih muda. Kurva risikonya naik tajam," dia menjelaskan.

Menurutnya, menjaga berat badan lewat modifikasi gaya hidup, seperti pengaturan pola makan serta olahraga, diakui bukan perkara yang mudah. Data klinis memperlihatkan tingkat keberhasilan diet mandiri dalam jangka panjang cuma sekitar 5 persen. Di sisi lain, operasi bariatrik masih terhambat biaya yang tinggi dan hanya diperuntukkan bagi kondisi medis tertentu.

"Di antara diet mandiri dan operasi bariatrik terdapat celah yang perlu diisi. Di sinilah pentingnya kehadiran inovasi obat-obatan medis terbaru untuk menjembatani kebutuhan tersebut," katanya.

Dengan mengendalikan serta menurunkan angka obesitas, ucapnya, secara langsung dapat mengantisipasi komplikasi lanjutan, seperti memangkas angka kasus diabetes, hipertensi, hingga penyakit jantung.

Sependapat, Spesialis Endokrinologi dari Persatuan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), Prof. Em Yunir, mengimbuhkan bahwa prevalensi diabetes di Indonesia saat ini berkisar antara 11,5 sampai 11,7 persen.

Menurutnya, tantangan terbesar dalam penanganan diabetes ialah penyakit ini jarang berdiri sendiri. Diabetes umumnya disertai bermacam penyakit penyerta (komorbid), seperti dislipidemia dan hipertensi, yang dapat memicu kerusakan organ, termasuk gagal ginjal.

Hadirnya inovasi pengobatan baru, seperti zat tirzepatide, diharapkan menjadi angin segar lantaran sanggup bekerja secara menyeluruh dengan meniru dua hormon alami tubuh yang mengatur pusat rasa lapar di otak. Lewat mekanisme tersebut, pasien akan merasa kenyang lebih cepat serta lebih lama sehingga asupan kalori berkurang secara alami.

"Cukup dengan satu jenis pengobatan, berbagai masalah dapat ikut terkendali. Tidak hanya menurunkan kadar gula darah dengan sangat baik, tetapi juga menurunkan tekanan darah, memperbaiki profil kolesterol, hingga membantu menurunkan berat badan secara signifikan," kata Em Yunir.

Kendati inovasi medis terus berkembang, perubahan gaya hidup sehat lewat olahraga teratur serta pengaturan pola makan tetap menjadi fondasi utama yang tidak boleh ditinggalkan dalam upaya mengantisipasi dan mengendalikan obesitas maupun diabetes.

Terkini