SPKLU

Ekosistem SPKLU Dorong Dekarbonisasi Nasional dan Pertumbuhan Ekonomi

Ekosistem SPKLU Dorong Dekarbonisasi Nasional dan Pertumbuhan Ekonomi
Ekosistem SPKLU Dorong Dekarbonisasi Nasional dan Pertumbuhan Ekonomi

JAKARTA - Percepatan transisi energi kini menjadi salah satu fokus utama pemerintah dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan kebutuhan pembangunan berkelanjutan. 

Salah satu langkah konkret yang terus didorong adalah pengembangan ekosistem kendaraan listrik, termasuk penyediaan infrastruktur pendukung berupa stasiun pengisian kendaraan listrik umum atau SPKLU. Keberadaan fasilitas ini dinilai memiliki peran strategis dalam menekan emisi karbon sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Tenaga Ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Satya Hangga Yudha Widya Putra menilai bahwa pengembangan SPKLU secara masif akan memberikan dampak signifikan terhadap pencapaian target dekarbonisasi pemerintah. 

Selain mendukung agenda lingkungan, ekosistem kendaraan listrik juga diyakini mampu menjadi motor baru pertumbuhan ekonomi nasional.

Dalam berbagai kesempatan, pemerintah menekankan pentingnya kesiapan infrastruktur sebagai fondasi utama dalam mendorong masyarakat beralih ke kendaraan listrik. Tanpa dukungan pengisian daya yang memadai dan mudah diakses, adopsi kendaraan listrik dinilai tidak akan berjalan optimal.

Peran Strategis SPKLU dalam Transisi Energi

Menurut Hangga, SPKLU memiliki keunggulan tersendiri dibandingkan stasiun pengisian bahan bakar gas atau SPBG. Salah satu kelebihan utamanya adalah fleksibilitas lokasi. 

SPKLU dapat dibangun di berbagai titik selama tersedia jaringan listrik yang memadai, sehingga penyebarannya bisa dilakukan lebih cepat dan merata.

“Saya berharap ekosistem ini terus dikembangkan untuk mendukung target dekarbonisasi dan pertumbuhan ekonomi sebesar delapan persen,” kata Hangga.

Pada kesempatan tersebut, Hangga juga menyampaikan apresiasi atas agresivitas pengembangan infrastruktur kelistrikan di Jawa Barat. Provinsi ini dinilai menjadi contoh dalam pemanfaatan pasokan listrik yang semakin ramah lingkungan, dengan sekitar 33 persen energi listriknya telah bersumber dari energi baru dan terbarukan (EBT).

Penguatan infrastruktur SPKLU dinilai sejalan dengan visi pemerintah dalam menurunkan emisi gas rumah kaca serta menciptakan sistem transportasi yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Jawa Barat sebagai Barometer Kendaraan Listrik

Pertumbuhan kendaraan listrik di Jawa Barat menunjukkan tren yang sangat signifikan. Wilayah ini menyumbang sekitar 22 persen dari total penjualan kendaraan listrik nasional, berdasarkan data dari wilayah kerja PT PLN Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Barat.

 Angka tersebut mencerminkan tingginya minat masyarakat terhadap kendaraan listrik, sekaligus menjadi indikator keberhasilan penyediaan infrastruktur pendukung.

Hingga Desember 2025, PLN telah mengoperasikan 501 unit SPKLU yang tersebar di 289 lokasi strategis. Lokasi tersebut mencakup pusat perkotaan, kawasan komersial, hingga rest area jalur Tol Trans-Jawa. 

Kehadiran SPKLU di seluruh rest area tol dinilai krusial untuk mendukung mobilitas pengguna kendaraan listrik yang melakukan perjalanan jarak jauh antarkota.

Ketersediaan fasilitas ultra fast charging di jalur tol juga memberikan rasa aman bagi pengguna kendaraan listrik, karena waktu pengisian daya dapat dipangkas secara signifikan. Hal ini sekaligus menjawab kekhawatiran masyarakat terkait jarak tempuh dan ketersediaan stasiun pengisian.

Inovasi Layanan SPKLU oleh PLN

Senior Manager Komunikasi dan Umum PLN UID Jawa Barat, Krisantus H Setyawan, menjelaskan bahwa penambahan SPKLU merupakan wujud nyata dukungan PLN terhadap program dekarbonisasi pemerintah. Menurutnya, PLN tidak hanya fokus pada penyediaan stasiun pengisian tetap, tetapi juga menghadirkan solusi tambahan bagi pelanggan.

Salah satu inovasi yang disiapkan adalah layanan SPKLU Mobile. Layanan ini ditujukan bagi pengguna kendaraan listrik yang mengalami kondisi baterai rendah sebelum mencapai lokasi SPKLU terdekat. Dengan layanan tersebut, pengguna tetap mendapatkan bantuan pengisian daya dalam situasi darurat.

Manajer Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) PLN Bandung, Donna Sinatra, memaparkan bahwa hingga akhir tahun 2025 tercatat sebanyak 400.625 kali transaksi pengisian daya. Total energi listrik yang tersalurkan melalui SPKLU mencapai 9.481.373 kWh.

“Tren ini tumbuh sebesar 298 persen dibandingkan tahun sebelumnya,” ujarnya. Lonjakan tersebut menunjukkan peningkatan kepercayaan masyarakat terhadap kendaraan listrik serta infrastruktur pendukung yang semakin andal.

Peningkatan Pengalaman Pengguna dan Daya Tarik Investasi

Selain menambah jumlah SPKLU, PLN juga terus melakukan evaluasi berdasarkan pengalaman pelanggan. Manajer Pelayanan Pelanggan PLN UID Jawa Barat, Retna Arliana, mengungkapkan bahwa inovasi terbaru yang diluncurkan pada Desember 2025 adalah fitur Antrean SPKLU di aplikasi PLN Mobile.

“Fitur ini memungkinkan pengguna mendapatkan nomor antrean digital dan memantau status stasiun pengisian apakah sedang digunakan atau tersedia melalui indikator warna,” jelasnya. 

Inovasi ini diharapkan mampu mengurangi waktu tunggu dan meningkatkan kenyamanan pengguna kendaraan listrik.

Hangga menambahkan bahwa kunjungan kerjanya ke berbagai SPKLU juga bertujuan untuk mengidentifikasi hambatan birokrasi yang berpotensi menghambat masuknya investasi. 

Menurutnya, penyederhanaan regulasi dan kepastian infrastruktur menjadi faktor penting agar investor tidak beralih ke negara lain.

“Dengan dukungan infrastruktur yang andal dan insentif yang kompetitif, diharapkan masyarakat akan semakin terbiasa menggunakan kendaraan listrik dan transportasi umum bertenaga listrik guna menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan bagi masa depan Indonesia,” sebut Hangga.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index