Baja

Kemenperin Yakin CGL 2 Akan Perkuat Industri Baja Nasional

Kemenperin Yakin CGL 2 Akan Perkuat Industri Baja Nasional
Kemenperin Yakin CGL 2 Akan Perkuat Industri Baja Nasional

JAKARTA - PT Tata Metal Lestari membawa angin segar bagi industri baja nasional dengan pembangunan fasilitas Continuous Galvanizing Line (CGL) 2 di Purwakarta, Jawa Barat. 

Inisiatif ini tidak sekadar menambah kapasitas produksi, tetapi juga menjadi katalis penguatan ekosistem hulu-hilir industri baja di Indonesia, sambil menegaskan komitmen pada standar global dan industri hijau.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai proyek ini menjadi tonggak penting bagi pengembangan industri strategis dalam negeri. 

Dengan teknologi modern dan efisiensi tinggi, CGL 2 diharapkan memperkuat daya saing produk baja lapis domestik, membuka peluang ekspor, serta menumbuhkan ekonomi lokal melalui penciptaan lapangan kerja.

Peningkatan Nilai Tambah Industri Baja

Menurut Direktur Industri Logam Kemenperin, Dodiet Prasetyo, pembangunan CGL 2 menggunakan mesin dan teknologi dari Tenova, Italia. 

“Dengan adanya Project CGL 2 ini yang menggunakan mesin dan teknologi Dari Tenova, Italia, kami berharap akan terjadi suatu penguatan ekosistem hulu-hilir yang juga akan meningkatkan nilai tambah di dalam negeri. Sehingga bisa meningkatkan daya saing industri nasional,” kata Dodiet.

Teknologi Continuous Galvanizing Line memungkinkan pelapisan baja secara menerus berbasis zinc magnesium dan zinc aluminium magnesium. 

Hasilnya, usia pakai baja dapat meningkat hingga empat kali lipat dibandingkan baja biasa. Fasilitas ini juga dilengkapi burner berbasis hidrogen yang rendah emisi, sejalan dengan upaya Kemenperin mendorong industri hijau.

“Proyek ini tentu akan meningkatkan daya saing nasional, menciptakan job creation, dan juga pemberdayaan ekonomi lokal,” tambah Dodiet.

Peran Industri Midstream Dalam Rantai Pasok

VP of Operations PT Tata Metal Lestari, Stephanus Koeswandi, menekankan bahwa pembangunan CGL 2 bagian dari strategi memperkuat industri antara (midstream) baja nasional. Industri midstream memiliki peran krusial sebagai penghubung sektor hulu dan hilir.

 “Apabila sektor ini tidak kompetitif, rantai pasok akan rapuh dan ketergantungan impor terus tinggi,” ujarnya.

Stephanus menegaskan, PT Tata Metal Lestari saat ini tidak hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga mengekspor produk baja lapis ke 25 negara, termasuk Amerika Serikat dan Eropa yang memiliki standar kualitas tinggi. 

Pembangunan CGL 2 menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kapasitas terpasang hingga 2,5 juta ton baja lapis dalam 10 tahun ke depan, sekaligus mendukung program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) dan menghadirkan produk Made in Indonesia berstandar global.

Kapasitas Produksi dan Kolaborasi Teknologi

Fasilitas baru ini akan memproduksi sekitar 250 ribu ton baja lapis per tahun, melengkapi produksi CGL 1 di Cikarang yang sebelumnya sebesar 500 ribu ton per tahun. Dengan total kapasitas gabungan, PT Tata Metal Lestari mampu memenuhi permintaan domestik sekaligus memperluas pasar ekspor.

Dalam pengembangan fasilitas ini, perusahaan menggandeng Tenova dari Italia untuk memastikan penerapan teknologi terbaik yang efisien. 

Kolaborasi ini mencakup seluruh aspek mulai dari desain mesin, instalasi, commissioning, hingga operasional, sehingga menjamin kualitas produksi yang konsisten dan ramah lingkungan.

Kebijakan Strategis Dukung Industri Baja Nasional

Kemenperin mendorong pertumbuhan industri baja melalui berbagai kebijakan strategis. Beberapa di antaranya meliputi penerapan tindakan pengamanan perdagangan (trade remedies), pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib, pemberian fasilitas Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), pengutamaan penggunaan produk dalam negeri, insentif fiskal, serta prinsip industri hijau.

Kebijakan ini dirancang untuk menciptakan ekosistem industri baja yang kuat, kompetitif, dan berkelanjutan. Dengan dukungan teknologi modern dan kapasitas produksi yang terus meningkat, industri baja nasional diyakini dapat mengurangi ketergantungan pada impor, memperkuat rantai pasok domestik, dan menghadirkan produk berkualitas tinggi untuk pasar global.

Pembangunan CGL 2 menunjukkan bagaimana perusahaan nasional mampu menggabungkan inovasi teknologi, praktik ramah lingkungan, dan strategi bisnis yang tepat untuk memperkuat daya saing industri baja.

 Langkah ini sekaligus menjadi contoh nyata bahwa investasi pada industri strategis dapat berjalan seiring dengan upaya pengembangan ekonomi lokal dan keberlanjutan lingkungan.

Dengan komitmen seperti ini, Indonesia semakin siap menjadi pemain utama dalam industri baja global, sambil menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan dapat tercapai secara bersamaan melalui penguatan ekosistem industri dari hulu hingga hilir.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index