IHSG

IHSG Membaik, Airlangga Hartarto Sampaikan Optimisme Perekonomian

IHSG Membaik, Airlangga Hartarto Sampaikan Optimisme Perekonomian
IHSG Membaik, Airlangga Hartarto Sampaikan Optimisme Perekonomian

JAKARTA - Setelah beberapa hari mengalami tekanan hebat yang memicu penghentian sementara perdagangan saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya menunjukkan tanda-tanda pemulihan.

 Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan rasa syukur atas perbaikan yang terjadi di pasar modal Indonesia. 

Pada penutupan perdagangan Kamis, 29 Januari 2026, IHSG tercatat melemah 1,06 persen ke level 8.232, jauh lebih terkendali dibandingkan sesi sebelumnya yang sempat membuat pasar saham berada dalam ketegangan.

"Alhamdulillah Wa syukurillah," ungkap Airlangga.

Respons positif terhadap pergerakan IHSG ini mencerminkan keyakinan pemerintah terhadap ketahanan pasar modal Indonesia meskipun sempat mengalami gejolak besar.

Respons Cepat Pemerintah untuk Menenangkan Pasar

Perbaikan IHSG yang terlihat pada perdagangan Kamis tersebut tidak lepas dari respons cepat pemerintah yang segera berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan otoritas terkait lainnya. 

Langkah cepat ini diambil untuk meredam gejolak yang terjadi di pasar saham dan memulihkan kepercayaan investor terhadap pasar modal domestik. 

Airlangga menjelaskan bahwa koordinasi tingkat tinggi antara pemerintah, Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, serta Ketua Dewan Komisioner OJK telah menghasilkan langkah-langkah konkret guna menenangkan pasar.

"Faktor karena pemerintah merespons dan tadi dengan OJK sudah kita bahas mengenai mekanisme berikutnya," kata Airlangga. 

Koordinasi ini berfokus pada kebijakan yang lebih transparan dan lebih akurat dalam penghitungan data free float saham, yang sebelumnya menjadi perhatian lembaga indeks global, termasuk MSCI.

Penyesuaian Metodologi Free Float Saham

Salah satu hasil penting dari pertemuan tersebut adalah penyesuaian mekanisme penghitungan data free float saham yang disorot oleh lembaga indeks internasional seperti MSCI. 

Dalam kebijakan terbaru, OJK bersama Self-Regulatory Organization (SRO) telah melakukan penyesuaian dengan mengecualikan kategori investor korporasi dan kelompok tertentu lainnya dalam penghitungan free float. Dengan langkah ini, diharapkan transparansi dan akurasi dalam struktur kepemilikan saham dapat terjaga.

Selain itu, kepemilikan saham kini dirinci dengan lebih detail, baik untuk saham dengan porsi di atas maupun di bawah lima persen pada setiap kategori investor. Regulator juga menetapkan ketentuan minimum untuk free float sebesar 15 persen dengan prinsip transparansi yang lebih tinggi. 

Penyesuaian ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai siapa pemilik sebenarnya (Ultimate Beneficial Owner atau UBO) dari saham-saham yang diperdagangkan di pasar modal Indonesia.

Kejelasan Mengenai Pemilik Saham yang Mendorong Transparansi

Airlangga menegaskan bahwa aspek paling fundamental dari kebijakan tersebut bukan semata tentang besaran persentase free float yang ditetapkan, tetapi kejelasan mengenai siapa pemilik sebenarnya (UBO) dari saham-saham yang beredar. 

"Tahap ini cukup. Dalam 15 persen juga tetap transparan UBO-nya siapa? Dalam rangka transparansi daripada free float diapa aja itu kan kelihatan. Jadi itu sudah memitigasi saham gorengan," jelas Airlangga.

Dengan adanya transparansi mengenai UBO, identitas pemilik saham yang ada di balik kategori free float menjadi lebih jelas, baik bagi investor global maupun domestik. 

Kebijakan ini diharapkan dapat mengurangi praktik manipulasi harga saham atau yang dikenal dengan istilah "saham gorengan". Selama ini, saham-saham yang masuk dalam kategori tersebut sering kali memicu aksi jual panik yang merugikan banyak investor.

Optimisme Pemerintah untuk Memperbaiki Kredibilitas Pasar Modal

Dalam jangka panjang, pemerintah optimistis langkah-langkah pembenahan yang dilakukan sejalan dengan praktik terbaik internasional ini akan memperkuat kredibilitas pasar modal Indonesia. 

Langkah-langkah transparansi yang diambil, terutama terkait dengan UBO, diharapkan dapat memperbaiki persepsi pasar, baik di tingkat domestik maupun internasional. Pemerintah berharap langkah ini bisa mempercepat pemulihan bursa saham Indonesia dan meningkatkan kepercayaan lembaga indeks dunia, termasuk MSCI, terhadap pasar saham nasional.

Dengan kebijakan tersebut, pasar saham Indonesia diharapkan bisa kembali menarik minat investor global yang sebelumnya khawatir dengan kondisi ketidakpastian pasar. 

Dengan transparansi yang lebih baik dan kebijakan yang lebih jelas, Indonesia berpotensi untuk menunjukkan potensi pasar modal yang lebih stabil dan lebih menarik bagi investor asing.

Menjaga Kepercayaan Investor dalam Pasar Saham

Perbaikan IHSG yang terlihat beberapa hari terakhir menunjukkan bahwa pasar saham Indonesia memiliki daya tahan yang cukup kuat meskipun sempat mengalami tekanan. 

Respons cepat dari pemerintah dan otoritas terkait dalam menangani gejolak yang terjadi menunjukkan komitmen untuk menjaga kestabilan pasar. 

Penyesuaian mekanisme penghitungan free float saham menjadi salah satu langkah penting dalam menjaga transparansi dan mengurangi risiko manipulasi pasar.

Ke depannya, pemerintah dan OJK akan terus memantau perkembangan pasar dan memperkuat kebijakan untuk memastikan bahwa pasar modal Indonesia tetap menarik dan aman untuk investasi. 

Dengan langkah-langkah konkret yang diambil, Indonesia dapat terus meningkatkan daya tariknya sebagai tujuan investasi, baik bagi investor domestik maupun asing.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index