Puluhan Orang di Empat Negara Bagian AS Keracunan Usai Terapi Infus Glutathione

Puluhan Orang di Empat Negara Bagian AS Keracunan Usai Terapi Infus Glutathione

LANSKAPFINANSIAL.COM — Lebih dari 30 orang di empat negara bagian Amerika Serikat mengalami keracunan bakteri setelah menerima infus glutathione di klinik kesehatan. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) menemukan bahwa cairan infus yang dipromosikan untuk detoksifikasi itu justru terkontaminasi racun. Kasus ini menyoroti celah pengawasan pada layanan infus vitamin yang kian populer di klinik wellness.

CDC dan FDA mengumumkan temuan tersebut setelah menerima laporan puluhan pasien yang jatuh sakit usai menjalani terapi infus di klinik kesehatan. Glutathione yang disuntikkan ke tubuh pasien berasal dari bahan baku yang seharusnya hanya untuk suplemen oral, bukan untuk disuntik.

Glutathione sendiri adalah antioksidan yang secara alami ada di dalam tubuh. Zat ini dipasarkan secara luas sebagai bahan infus untuk detoksifikasi, penambah energi, penunjang imun, hingga pemutih kulit.

Apa Sebenarnya Glutathione dan Mengapa Dipakai di Klinik

Glutathione telah diteliti sebagai kandidat pengobatan berbagai penyakit. Namun hingga kini, bukti ilmiah yang kuat untuk penggunaannya masih sangat minim.

Di Amerika Serikat, tidak ada satu pun produk glutathione yang mendapat persetujuan FDA. Meski begitu, zat ini tetap lazim dijual sebagai suplemen, umumnya dalam bentuk pil yang dikonsumsi lewat mulut.

Klinik wellness yang menawarkan infus vitamin turut menjajakan glutathione sebagai salah satu menu andalan. Promosinya beragam, dari detoksifikasi hingga pencerahan kulit, tanpa disertai bukti klinis yang memadai.

Bahan Baku Suplemen Oral Dipakai untuk Suntikan

Sumber masalahnya ada pada rantai produksi. Menurut CDC dan FDA, apotek peracik khusus atau compounding pharmacy membuat cairan infus glutathione menggunakan bubuk glutathione yang kualitasnya diperuntukkan bagi suplemen oral.

Standar bubuk untuk suplemen oral berbeda secara krusial dari produk murni yang layak dipakai dalam obat suntik steril. Perbedaan inilah yang membuka jalan masuknya kontaminasi bakteri ke dalam cairan infus.

Akibatnya, puluhan pasien yang datang untuk mendapat manfaat kesehatan justru menerima zat beracun langsung ke aliran darah. Gejala keracunan muncul setelah prosedur dilakukan di sejumlah klinik di empat negara bagian.

Peringatan bagi Pengguna Layanan Infus Vitamin

Kasus ini menjadi pengingat bahwa prosedur infus tidak bisa disamakan dengan konsumsi suplemen biasa. Zat yang masuk langsung ke pembuluh darah melewati benteng pertahanan alami tubuh terhadap kuman dan bahan asing.

Layanan infus vitamin dan glutathione memang tengah naik daun di banyak negara, termasuk sebagai bagian dari gaya hidup kebugaran. Namun pengawasan terhadap bahan baku dan proses peracikannya sering luput dari perhatian.

CDC dan FDA belum merinci nama klinik maupun lokasi persis kejadian di empat negara bagian tersebut. Penyelidikan masih berjalan untuk memetakan seberapa luas peredaran cairan infus bermasalah ini.

Bagi konsumen, kehati-hatian menjadi kunci. Prosedur infus sebaiknya hanya dilakukan di fasilitas medis yang diawasi ketat dan menggunakan produk yang jelas asal-usulnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index