Ubuntu Dinilai Terlalu Memaksa Snap dan GNOME, Pengguna Beralih ke Fedora

Minggu, 20 September 2026 | 05:40:00 WIB
Ubuntu Dinilai Terlalu Memaksa Snap dan GNOME, Pengguna Beralih ke Fedora

LANSKAPFINANSIAL.COM — Keputusan Canonical mempertahankan Snap dan GNOME di Ubuntu membuat sebagian pengguna Linux mencari alternatif lain. Fedora dengan KDE Plasma dan dukungan Flatpak disebut lebih sesuai kebutuhan mereka. Peralihan ini menyoroti perdebatan lama soal arah pengembangan distro Linux arus utama.

Ubuntu lama dikenal sebagai pintu masuk paling populer ke dunia Linux. Dukungan organisasi besar dan proses instalasi yang relatif mudah membuatnya jadi pilihan utama banyak orang.

Namun sejumlah keputusan Canonical selaku pengembang Ubuntu dinilai mulai mengganggu. Preferensi terhadap Snap, pilihan desktop GNOME, hingga dorongan mengadopsi AI disebut jadi pemicu utama pengguna mencari distro lain.

Keluhan pada GNOME dan Snap

Desktop GNOME yang jadi tampilan bawaan Ubuntu dianggap tidak lagi nyaman untuk sebagian pengguna. Peluncur aplikasi yang memenuhi layar penuh dan pencarian sistem dengan perilaku serupa jadi salah satu keluhan.

GNOME sebenarnya bisa dimodifikasi lewat ekstensi. Tapi ekstensi ini rentan bermasalah setiap kali GNOME diperbarui, sehingga tidak selalu jadi solusi yang bisa diandalkan.

Soal format paket, Canonical tetap mendorong Snap ketimbang mengadopsi Flatpak yang lebih luas didukung. Dalam ekosistem Linux, Flatpak sudah mapan sebagai format lintas distro pilihan di sebagian besar distribusi.

Ubuntu justru konsisten meninggalkannya demi Snap. Sikap ini dinilai merugikan bukan hanya Ubuntu, tapi juga Linux secara keseluruhan, mengingat pangsa Ubuntu yang besar di ekosistem.

Beban Sistem dan AI Jadi Pertimbangan

Kebutuhan sistem Ubuntu juga terus naik dari waktu ke waktu. Rilis terbarunya disebut membutuhkan RAM 6GB, lebih besar dari syarat minimum resmi Windows 11.

Soal AI, sebagian pengguna mengaku skeptis terhadap produk yang bergerak ke arah itu. Ubuntu dinilai tidak perlu ikut arus tersebut, dan mereka lebih memilih proyek yang memakai AI lebih sedikit atau tidak sama sekali.

Tidak ada satu pun faktor itu yang jadi masalah besar sendirian. Tapi akumulasinya cukup membuat sebagian orang ingin mencari alternatif.

Fedora dan KDE Plasma Jadi Pelabuhan Baru

Fedora muncul sebagai kandidat pertama begitu Ubuntu keluar dari pertimbangan. Distro ini juga menyediakan GNOME di versi standarnya, tapi ada spin resmi Fedora yang memakai KDE Plasma sebagai desktop.

KDE Plasma tampil lebih mirip Windows, sistem operasi yang lama dipakai sebelum beralih ke Linux. Tapi di sisi lain, ia jauh lebih kuat dan bisa dikustomisasi.

Beberapa tema sederhana tersedia langsung setelah instalasi. Marketplace tema resminya berisi beragam desain yang bisa diterapkan ke desktop, mengubah ikon, warna, transparansi, dan lainnya.

Pengguna juga bisa melakukan penyesuaian detail, misalnya mengambil ikon dari satu tema dan warna dari tema lain. Tingkat kontrolnya disebut jauh lebih besar.

Fitur yang Tidak Terpikirkan Sebelumnya

KDE Plasma juga punya fitur lanjutan yang berguna. Salah satunya manajemen jendela bertiling yang lebih baik, mirip PowerToys FancyZones di Windows.

Fitur ini memberi kontrol lebih besar dalam mengatur jendela. Ada pula kemampuan menyembunyikan jendela tertentu dari tangkapan layar atau rekaman tanpa harus meminimalkannya.

Pengguna bisa membuat tampilan virtual khusus untuk menempatkan jendela tertentu saat streaming atau merekam. Fitur baru terus ditambahkan, termasuk menu aksen cepat yang mirip macOS dan penanganan multi-monitor yang lebih baik dari desktop lain.

Flatpak dan Siklus Pembaruan Lebih Cepat

Fedora secara alami menyertakan Flatpak sebagai platform aplikasi lintas distro, bukan Snap. Lewat toko Discover, pengguna lebih mudah menemukan beragam perangkat lunak Flatpak.

Salah satu contohnya OBS Studio untuk streaming, yang tidak punya paket Snap resmi. Fedora juga dikenal punya siklus pembaruan lebih cepat dibanding Ubuntu.

Fedora bukan distro rolling release seperti Arch. Tapi tim Fedora cenderung menguji dan menerbitkan paket terbaru jauh lebih cepat, sehingga pengguna mendapat fitur terkini lebih awal.

Sisi kurang menguntungkan dari manajemen paket Fedora adalah repositori pihak ketiga berpemilik tidak aktif secara bawaan. Pengguna yang ingin memasang aplikasi non-open-source harus mengonfigurasi repositori itu untuk Flatpak dan manajer paket DNF.

Prosesnya butuh usaha ekstra yang sebenarnya tidak diinginkan sebagian pengguna. Tapi konfigurasi ini hanya perlu dilakukan sekali, sehingga tidak terlalu merepotkan setelahnya.

Terkini