PTDI Kaji Ambulans Udara, Pilih NC212 dan N219

Minggu, 20 September 2026 | 06:31:00 WIB
PTDI Kaji Ambulans Udara, Pilih NC212 dan N219

LANSKAPFINANSIAL.COM — PT Dirgantara Indonesia (Persero) tengah mengkaji pengembangan ambulans terbang dengan memanfaatkan platform pesawat NC212. Kajian ini menyusul instruksi Presiden Prabowo Subianto agar pemerintah menyediakan ambulans udara bagi daerah terpencil yang sulit dijangkau layanan kesehatan.

VP Business Development & Marketing PTDI Heber M. F Panjaitan menyatakan pengembangan ambulans terbang masih berada di tahap pengkajian. Menurut dia, pesawat NC212 dinilai paling fleksibel untuk kebutuhan evakuasi medis.

"Kita juga sedang explore untuk ambulans terbang. Jadi kita melihat platform NC212 ini cukup fleksibel untuk digunakan sebagai ambulans terbang, karena loading-unloading untuk orang sakit itu lebih mudah," ujar Heber di TNI Fair, Monumen Nasional, Jakarta Pusat, Sabtu (19/9/2026).

Alasan NC212 Dinilai Paling Cocok

Heber menjelaskan proses bongkar-muat pasien menjadi pertimbangan utama pemilihan NC212. Pesawat itu memungkinkan perawatan medis dilakukan lebih mudah selama penerbangan.

PTDI tidak menutup kemungkinan memakai platform lain untuk pengembangan serupa. Heber menyebut N219 hingga RM200 bisa menjadi opsi alternatif.

"Ini bisa kita kerja samakan dengan BRIN atau pihak-pihak lain. Jadi platformnya bisa 212, bisa N219, bisa juga RM200," terangnya.

Perintah Prabowo dan Kesiapan BRIN

Gagasan ambulans udara pertama kali disampaikan Presiden Prabowo Subianto saat memberikan Keterangan Pemerintah atas RUU APBN 2027 di Kompleks Parlemen, Jakarta, 14 Agustus 2026. Prabowo menilai negara harus hadir di tengah masyarakat yang sulit mengakses fasilitas kesehatan.

"Negara harus hadir sedekat mungkin dengan rakyat, untuk itu kita akan buat ambulans udara dengan heli dan pesawat kecil yang bisa mendarat di lapangan-lapangan rumput, pasir, sungai, supaya tidak ada rakyat kita yang tidak bisa tidak dievakuasi ketika dia sakit," kata Prabowo.

Prabowo menyoroti masih adanya warga yang harus menempuh perjalanan 7-9 jam demi mendapat layanan kesehatan. Kondisi itu membuat ibu yang hendak melahirkan kerap kesulitan mendapat pertolongan medis.

"Untuk itu kita harus cari terobosan, salah satu jalan ada ambulans udara, bahkan nanti juga tim dokter terbang," ujarnya.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) merespons rencana itu dengan mematangkan ekosistem pesawat N219 dan varian amfibinya, N219A. Kepala BRIN Arif Satria menyebut N219 dikembangkan bersama PTDI dan punya kemampuan Short Take-Off and Landing (STOL), sehingga bisa beroperasi dari landasan pendek.

N219A dirancang sebagai varian amfibi yang dapat beroperasi di wilayah perairan. Kedua pesawat itu diproyeksikan mendukung evakuasi medis, terutama bagi warga di kawasan kepulauan dan daerah yang sulit dijangkau jalur darat.

Wilayah Kepulauan Jadi Sasaran Utama

Kebutuhan ambulans udara paling terasa di wilayah kepulauan dan daerah pedalaman. Di sana, akses jalan terbatas dan waktu tempuh ke rumah sakit bisa berjam-jam.

Platform NC212, N219, dan N219A menawarkan solusi berbeda sesuai medan. NC212 cocok untuk evakuasi pasien dalam jumlah lebih banyak, sementara N219A lebih luwes mendarat di perairan.

PTDI belum memerinci jadwal produksi maupun anggaran pengembangan ambulans terbang. Kerja sama dengan BRIN dan pihak lain disebut masih dalam penjajakan.

Rencana ini menjadi uji bagi PTDI memperluas peran pesawat buatan dalam negeri dari sektor pertahanan ke layanan publik. Jika terealisasi, ambulans udara bisa memangkas ketimpangan akses kesehatan antara kota besar dan daerah terpencil.

Terkini