Build a Rocket Boy, Pengembang MindsEye, Dilaporkan Tutup dan PHK Seluruh Karyawan

Build a Rocket Boy, Pengembang MindsEye, Dilaporkan Tutup dan PHK Seluruh Karyawan

LANSKAPFINANSIAL.COM — Build a Rocket Boy (BARB), studio di balik game MindsEye, dilaporkan menutup operasional dan memberhentikan seluruh karyawan yang tersisa. Sejumlah staf mengumumkan status mereka di LinkedIn, menandai babak akhir dari salah satu peluncuran game paling bermasalah dalam beberapa tahun terakhir.

Sejumlah karyawan Build a Rocket Boy mengunggah pesan perpisahan di LinkedIn yang menyebut posisi mereka kena pemutusan hubungan kerja. Principal talent acquisition partner studio itu, Dan Hawkins, menulis bahwa ia akan mendampingi BARB "sampai akhir" sambil membantu merapikan urusan di departemen SDM.

Lead weapon and prop artist Adam Ridsdale menyatakan ia kini mencari peluang baru. Senior VFX artist Jason Waller menyebut perannya sebagai "redundant", sama seperti rekan-rekan lain yang masih tersisa di studio.

Dari Peluncuran Buruk ke Tudingan Sabotase

MindsEye dirilis pada 2025 sebagai game action-thriller yang menerima respons sangat negatif dari kritikus dan pemain. Alih-alih fokus membenahi produk, BARB berulang kali menyatakan bahwa mereka menjadi korban kampanye sabotase.

Narasi tersebut memperkeruh hubungan dengan publisher awal MindsEye, IO Interactive. Pihak IO Interactive akhirnya memilih mundur dari proyek itu sepenuhnya.

Tim tetap merilis pembaruan, termasuk ekspansi yang diklaim akan menyajikan "bukti sabotase" yang menjatuhkan MindsEye. Ekspansi itu gagal memenuhi janji tersebut dan menuai kritik lebih keras.

Gelombang PHK dan Tudingan dari Karyawan

Sebelum penutupan ini, BARB sudah melewati beberapa putaran PHK. Sejumlah karyawan juga melayangkan tuduhan soal manajemen yang buruk dan pengawasan terhadap pegawai tanpa izin.

Stuart Ross, veteran Rockstar yang menjabat head of audio di BARB, termasuk di antara staf yang melaporkan pemutusan hubungan kerja. Ia tidak menyebut dampak yang lebih luas dari pemangkasan tersebut.

Hingga berita ini ditulis, Build a Rocket Boy belum mengeluarkan pernyataan resmi soal laporan penutupan studio. Industri game sendiri dikenal tidak memberi ruang banyak bagi studio yang gagal memenuhi ekspektasi pasar.

Jejak Panjang Sebelum Titik Akhir

Kombinasi peluncuran yang buruk, konflik dengan publisher, dan tuduhan internal membuat posisi BARB makin sulit. Putaran PHK yang berulang memperkecil ruang studio untuk bangkit.

Bagi pengguna di Indonesia, nasib BARB menjadi pengingat bahwa game yang sudah dibeli bisa kehilangan dukungan pengembangnya. MindsEye sendiri tidak memiliki basis pemain besar di pasar lokal, sehingga dampak langsungnya terbatas.

Jika laporan ini benar, MindsEye berpotensi berakhir tanpa perbaikan signifikan yang sempat dijanjikan. Para pemain yang masih menyimpan harapan pada pembaruan lanjutan kemungkinan harus menerima kenyataan bahwa proyek ini tidak akan dilanjutkan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index