LANSKAPFINANSIAL.COM — Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan meresmikan pembangunan PSEL Bogor Raya di TPAS Galuga, Kabupaten Bogor. Fasilitas ini menjadi proyek pertama di Indonesia yang menggabungkan teknologi pengolahan sampah menjadi energi listrik dengan pirolisis untuk menuntaskan timbunan sampah lama dalam satu kawasan.
PSEL Bogor Raya dirancang mengolah sekitar 1.500 ton sampah baru per hari menjadi listrik berkapasitas 20-30 MW, dengan PT PLN (Persero) bertindak sebagai offtaker. Teknologi pirolisis disiapkan menangani 700 hingga 1.000 ton timbunan sampah lama per hari dari TPAS Galuga.
Zulkifli menegaskan pendekatan integrasi dua teknologi itu belum pernah diterapkan di proyek pengolahan sampah lain di Tanah Air. Menurutnya, fasilitas pengolahan sampah tidak cukup hanya menghentikan pertambahan timbunan baru.
"Ini yang pertama di Indonesia. Sampah yang datang setiap hari kita selesaikan melalui PSEL menjadi energi listrik. Tetapi kita tidak berhenti di sana. Sampah lama yang sudah bertahun-tahun menumpuk juga harus kita tuntaskan dengan teknologi pirolisis," ujar Zulhas, Kamis (17/9).
Beban Sampah Bogor Raya Capai 3.000 Ton per Hari
Kabupaten Bogor menghasilkan sekitar 3.000 ton sampah setiap hari, sementara Kota Bogor menyumbang 700-1.000 ton per hari. Kondisi TPAS Galuga dinilai Zulhas sudah masuk kategori darurat sehingga penanganannya diprioritaskan.
"TPAS Galuga termasuk yang kondisinya darurat. Karena itu, yang kita dahulukan adalah daerah-daerah yang darurat dan memberikan dampak buruk bagi masyarakat. Persoalan sebesar ini tidak mungkin diselesaikan Bogor sendiri," katanya.
Pemerintah pusat, lanjut Zulhas, turun langsung karena kapasitas daerah tidak memadai untuk menuntaskan persoalan lintas wilayah tersebut.
Hambatan Regulasi dan Ego Sektoral Jadi Penyebab Lambatnya Pembangunan
Zulhas mengungkapkan pembangunan fasilitas pengolahan sampah tidak berkembang sesuai kebutuhan selama sekitar 11 tahun terakhir. Proses yang panjang dan kompleks membuat sejumlah proyek tertahan.
Pemerintah kemudian melakukan konsolidasi lintas kementerian dan lembaga, disusul penyederhanaan regulasi. Langkah itu diambil atas perintah Presiden untuk memangkas prosedur yang dinilai mempersulit penanganan sampah.
"Dulu penanganan sampah rumit karena masing-masing berjalan sendiri-sendiri. Atas perintah Presiden, kemudian dilakukan penyederhanaan prosedur dan aturan. Kita ingin masalah sampah diselesaikan, bukan dipersulit oleh aturan," papar Zulhas.
Bagian dari Tiga Proyek PSEL Gelombang Pertama
PSEL Bogor Raya masuk dalam tiga proyek PSEL gelombang pertama yang ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN), bersama PSEL Kota Bekasi dan PSEL Denpasar Raya. Bogor Raya membawa pendekatan berbeda lewat integrasi penanganan arus sampah baru dan penyelesaian timbunan sampah lama dalam satu kawasan.
Dengan skema tersebut, kawasan Galuga diarahkan menjadi contoh penanganan sampah dari hulu hingga hilir. Sampah baru ditargetkan tidak terus menumpuk, sedangkan timbunan lama akan dituntaskan secara bertahap.
"Kita ingin membuktikan bahwa persoalan sampah bisa diselesaikan secara tuntas. Sampah baru menjadi energi listrik, sampah lama kita bereskan menjadi bahan bakar untuk diesel. Kalau model ini berhasil, Bogor bisa menjadi contoh bagaimana Indonesia menyelesaikan persoalan sampah secara menyeluruh," pungkas Zulhas.